Jakarta: Sigung dikenal sebagai hewan dengan ciri khas tubuh hitam-putih dan kemampuan mengeluarkan bau menyengat ketika merasa terancam. Namun, di balik kemampuan tersebut, sigung ternyata memiliki sejumlah fakta menarik, mulai dari cara mempertahankan diri hingga perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Melansir National Geographic, sigung merupakan hewan omnivora yang umumnya bersifat tenang dan menggunakan semprotannya sebagai mekanisme pertahanan ketika merasa terancam.
4 Fakta Unik tentang Sigung
1. Sigung Tidak Asal Menyemprot
Semprotan berbau menyengat merupakan mekanisme pertahanan sigung. Sebelum menggunakannya, sigung biasanya memberikan peringatan seperti menghentakkan kaki, mengangkat ekor, mendesis, dan mengarahkan bagian belakang tubuhnya kepada ancaman.
Jika ancaman tetap mendekat, barulah sigung menyemprotkan cairan dari kelenjar yang berada di dekat pangkal ekornya. Cairan tersebut mengandung senyawa sulfur yang menghasilkan aroma sangat menyengat.
Mengutip
National Geographic, semprotan
sigung dapat menjangkau sekitar 12 kaki atau sekitar 3,6 meter. Cairan tersebut juga dapat mengenai mata dan menyebabkan iritasi.
Sigung tidak bisa terus-menerus menyemprot. Setelah menggunakan cairan pertahanannya beberapa kali, tubuhnya membutuhkan waktu untuk memproduksinya kembali. Karena itu, semprotan menjadi pilihan terakhir ketika sigung benar-benar merasa terancam.
2. Sigung Merupakan Omnivora yang Membantu Mengendalikan Hama
Sigung merupakan hewan omnivora yang memiliki pola makan beragam. Mereka memakan serangga, tikus, burung dan telurnya, buah-buahan, hingga tumbuhan. Kebiasaan tersebut membuat sigung turut membantu mengendalikan populasi serangga dan hewan pengerat di lingkungan tempat mereka hidup.
3. Sigung Jago Menggali
Cakar yang kuat menjadi salah satu kemampuan penting
sigung. Mereka menggunakannya untuk menggali tanah ketika mencari makanan maupun membuat liang sebagai tempat berlindung. Sigung juga dikenal aktif pada malam hari dan biasanya beristirahat di dalam liang pada siang hari. Anak sigung yang disebut kit lahir dalam kondisi belum dapat melihat sehingga masih bergantung pada induknya.
4. Sigung Bisa Membawa Penyakit
Di balik perilakunya yang cenderung tenang, sigung tetap merupakan satwa liar yang dapat membawa penyakit dan parasit yang berpotensi menular kepada manusia maupun hewan peliharaan, terutama melalui gigitan.
Mengutip
Sterling Heights, sigung yang sakit dapat menunjukkan perubahan perilaku, seperti agresif tanpa pemicu, kehilangan orientasi, berjalan tidak stabil, hingga menjadi tidak biasa dalam berinteraksi dengan manusia. Karena itu, Teman MTVN Lens sebaiknya tidak mendekati atau mengganggu sigung, terutama jika hewan tersebut menunjukkan perilaku yang tidak biasa.
Nah Teman MTVN Lens, meski dikenal karena bau menyengatnya, sigung ternyata memiliki peran penting di lingkungan dan tidak selalu bersikap agresif. Kemampuan menyemprot justru menjadi mekanisme pertahanan ketika mereka merasa terancam. Jadi, jika bertemu
sigung di alam, sebaiknya beri ruang dan jangan mengganggunya.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Tititk Nurmalasari)