Kesaksian Warga saat Gempa NTT: Jembatan Pelabuhan Maumere Runtuh, Penumpang Jatuh ke Laut

15 August 2026 15:03

Guncangan hebat gempa bermagnitudo 7,7 yang melanda Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi, menyisakan trauma mendalam bagi warga di Pelabuhan Lorens Say, Maumere. Seorang saksi mata, Ignasius Nong Selves Mana, menceritakan detik-detik saat fasilitas pelabuhan hancur dan penumpang berhamburan menyelamatkan diri.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 05.00 WITA tersebut mengakibatkan jembatan penghubung dermaga terputus. Selves menyaksikan langsung bagaimana bangunan ruang tunggu pelabuhan mulai runtuh dan pagar pembatas jebol akibat guncangan.

“Situasi panik kami semua lari ke luar ke arah jalan raya terhambur. Bangunan ruang tunggu itu sudah mulai jatuh," ungkap Selves dalam wawancara di Headline News Metro TV, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Kondisi semakin mencekam saat kapal yang sedang bersandar terpaksa melepaskan ikatan tali untuk bergerak ke tengah laut demi alasan teknis. Akibatnya, sejumlah penumpang yang masih berada di tangga kapal terjatuh dan terhempas ke laut. Selves melaporkan melihat setidaknya dua orang menjadi korban di pelabuhan tersebut.

“Saat itu ada penumpang yang ada di kapal, di tangga, karena kapalnya ke tengah laut sehingga tangga itu tidak terikat dengan kapal, lalu ada yang jatuh dan terhambur ke air laut. Saat itu banyak yang kena tembok-tembok, pagar itu jebol,” ujar Selves.

Trauma gempa besar pada 1992 membuat warga secara spontan menghindari area pesisir. “Prinsip kami itu tidak boleh berada dekat air. Jadi kami harus lari ke arah jalan ke luar dari pelabuhan dan pada saat itu kami lari ke arah Nita, ke arah Nele, itu di dataran tinggi. Mungkin itu saja dulu,” tambah Selves.
 


Dampak gempa ini juga melumpuhkan aktivitas pendidikan di Kabupaten Sikka. Dinas Pendidikan setempat telah menginstruksikan agar seluruh sekolah tingkat SMK, SMA, dan SLB diliburkan sementara hingga informasi lebih lanjut. Selves, yang juga menjabat sebagai Kepala SMK Swasta Katolik Santo Ignatius Wairterang, telah meminta orang tua menjemput siswa di asrama untuk pulang ke rumah masing-masing.

Pada 15 Agustus 2026, gempa bumi berkekuatan awal bermagnitudo 7,0 dengan parameter pemutakhiran menjadi bermagnitudo 7,7 terjadi pada pukul 05.58 Wita . Episenter gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur. Pusat gempa bumi tektonik itu terjadi di wilayah laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami sesaat usai terjadi gempa tektonik tersebut. Peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 08.30 Wita setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut secara signifikan.

Hasil observasi tinggi muka laut mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah. Ketinggian tertinggi yang tercatat dalam laporan BMKG mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende, pada pukul 06.27 Wita. Kenaikan muka air laut juga tercatat di Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Dompu 0,17 meter, Bakalang-Alor 0,14 meter, serta sejumlah wilayah lainnya.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X