Makassar: Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang bagi Kasma Muskin Nusi, jemaah calon haji asal Kabupaten Sinjai, untuk menunaikan rukun Islam kelima. Meski harus berangkat dengan satu kaki dan menggunakan kursi roda, Kasma tetap menunjukkan semangat tinggi sebagai tamu Allah di Tanah Suci.
Kasma yang tergabung dalam kloter 17 embarkasi Makassar akhirnya bisa berangkat setelah penantian panjang sejak mendaftar pada 2011. Seharusnya, ia telah berangkat sejak dua tahun lalu, namun kondisi kesehatan memaksanya menunda keberangkatan.
“Pendaftaran 2011. Ternyata seharusnya dari dua tahun yang lalu naik haji,” ujar Kasma.
Perjalanan menuju
Tanah Suci bagi Kasma bukanlah hal mudah. Ia harus menghadapi penyakit diabetes yang menyebabkan luka serius pada kakinya. Kondisi tersebut terus memburuk hingga akhirnya ia harus menjalani amputasi hingga bagian paha.
“Karena penyakit gula, luka di kaki, airnya naik sampai ke lutut. Diamputasi sampai di paha,” ungkap Kasma.
Tak hanya kehilangan kaki, Kasma juga mengalami pelemahan pada tangan kanannya, yang membuat aktivitas sehari-hari menjadi semakin terbatas. Kini, ia harus mengandalkan kursi roda untuk beraktivitas.
Sebelum mengalami amputasi, Kasma bekerja sebagai penjual pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, kondisi fisiknya saat ini membuatnya tidak lagi bisa bekerja seperti sebelumnya.
Meski begitu, semangatnya untuk menunaikan
ibadah haji tidak pernah surut. Ia mengaku bersyukur akhirnya bisa berangkat tahun ini, didampingi oleh anaknya yang setia menemani selama perjalanan ibadah.
“Alhamdulillah, bahagia… karena bisa tahun ini naik,” kata Kasma.
Dalam persiapannya, Kasma lebih memfokuskan diri pada kesiapan spiritual. Ia memperbanyak ibadah dan doa sebagai bekal utama menuju Tanah Suci.
“Salat, ibadah,” ucap Kasma.
Selama proses keberangkatan, Kasma juga mendapatkan pendampingan dari petugas haji, baik di asrama embarkasi maupun nantinya di
Arab Saudi. Dukungan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kelancaran ibadahnya.
Kisah Kasma menjadi potret keteguhan dan keikhlasan seorang
jemaah dalam menjalankan ibadah. Di tengah keterbatasan fisik yang dihadapi, ia tetap menunjukkan keyakinan bahwa niat tulus dan usaha akan mendapatkan balasan terbaik.
Dengan dukungan keluarga dan pendampingan petugas, Kasma melangkah menuju
Tanah Suci dengan penuh harapan. Perjalanannya menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan bagian dari ujian yang dapat dilalui dengan keteguhan hati.