Lampung: Kabar menggembirakan datang dari dunia konservasi satwa liar di Lampung. Dua anak Harimau Sumatra lahir di Lembah Hijau. Kelahiran ini menjadi yang pertama di provinsi tersebut sekaligus menandai keberhasilan program pelestarian satwa langka.
Dua anak harimau tersebut merupakan hasil perkawinan pasangan Kyai Batua dan Atu Sinta, yang sebelumnya merupakan satwa hasil penyelamatan dari jerat pemburu liar. Kyai Batua diketahui pernah ditemukan dalam kondisi terluka parah di kawasan Suoh, Lampung Barat, hingga harus menjalani amputasi kaki depan kanan. Sementara Atu Sinta diselamatkan di Bengkulu dengan kondisi serupa dan kehilangan kaki belakang kanan.
Meski memiliki keterbatasan fisik, keduanya mampu berkembang biak melalui program konservasi ex situ atau di luar habitat aslinya. Program ini merupakan bagian dari Global Species Management Plan yang dijalankan Kementerian Kehutanan bersama
Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI).
Komisaris Lembaga Konservasi Lembah Hijau, M. Irwan Nasution, menyampaikan bahwa kondisi kedua
anak harimau saat ini dalam keadaan sehat dan terus dipantau secara intensif oleh tim.
“Kelahiran harimau Sumatra ini merupakan hasil dari pasangan Kyai Batua dan Sinta. Saat ini kondisi anakan sehat dan terus dipantau oleh tim kami, serta masih bersama induknya. Kami juga belum melakukan kontak langsung demi menjaga prinsip kehati-hatian,” ujar Irwan.
Irwan menambahkan, pihaknya belum dapat memastikan jenis kelamin kedua anak harimau tersebut karena masih mengutamakan keselamatan dan kenyamanan induk serta anak.
“Ini merupakan kelahiran pertama di Lembah Hijau dan juga yang pertama di Provinsi Lampung. Jadi kami sangat berhati-hati dalam penanganannya,” kata Irwan, menambahkan.
Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu-Lampung, Itno Itoyo, mengungkapkan rasa bangga atas keberhasilan tersebut. Ia menyebut, indikasi awal menunjukkan bahwa kedua
anak harimau memiliki jenis kelamin berbeda.
“Kami sangat terkejut sekaligus bangga dengan kelahiran dua anak harimau ini. Dari pengamatan melalui kamera, kemungkinan satu jantan dan satu betina, meskipun belum dapat dipastikan secara langsung,” jelasnya.
Kelahiran ini menjadi bukti bahwa upaya konservasi tidak hanya berhenti pada penyelamatan satwa, tetapi juga berhasil hingga tahap pengembangbiakan. Selain itu, momen ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan satwa dilindungi.
Keberhasilan ini juga membuka peluang pengembangan wisata edukasi berbasis konservasi di Lampung, sekaligus menjadi harapan baru bagi kelangsungan hidup harimau Sumatra yang kini terancam punah.