Tim BKSDA Sumbar bersama warga setempat saat melakukan pemantauan jejak satwa liar milik harimau sumatra di Nagari (Desa) Koto Sani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. ANTARA/HO-Diskominfo Solok
Harimau Sumatra Masuk Permukiman Warga di Solok, 3 Anjing Warga Dimangsa
Whisnu Mardiansyah • 21 April 2026 18:04
Solok: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat memastikan jejak satwa liar yang ditemukan warga di Nagari atau Desa Koto Sani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, merupakan jejak harimau Sumatra dewasa.
Kepala BKSDA Sumbar, Hartono, mengatakan dari kegiatan verifikasi yang telah dilakukan ditemukan tanda-tanda keberadaan atau kemunculan harimau Sumatra. Tanda tersebut berupa bekas jejak di sekitar permukiman dan perladangan warga.
Jejak yang ditemukan berukuran kurang lebih 8 sentimeter. Berdasarkan sebaran ukuran jejak yang relatif seragam, BKSDA memperkirakan harimau sumatra yang berkeliaran di sekitar permukiman warga itu hanya satu individu dewasa. Menindaklanjuti penemuan tersebut, tim BKSDA Sumbar langsung turun ke lokasi untuk melakukan verifikasi dan penanganan.
"Kegiatan verifikasi telah dilakukan sejak Sabtu, 18 April 2026 dengan didampingi perwakilan pemerintah nagari," kata Hartono melalui keterangan tertulis yang diterima di Solok seperti dilansir Antara, Selasa, 21 April 2026.
Ia mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah adanya laporan resmi dari wali nagari terkait kemunculan harimau di area permukiman dan perladangan warga. Selain itu, selama kemunculan tersebut dilaporkan ada tiga ekor anjing peliharaan warga yang telah menjadi korban.
Lebih lanjut, ia menyampaikan sebagai langkah penanganan, tim BKSDA melakukan penghalauan menggunakan meriam karbit. Penghalauan dilakukan dari area permukiman dan ladang warga. Harimau diarahkan kembali ke habitat alaminya di kawasan Suaka Margasatwa Barisan.

Ilustrasi Harimau Sumatra. (MI/RK)
"Kami juga memberikan sosialisasi kepada warga terkait upaya pencegahan untuk meminimalkan interaksi negatif dengan satwa liar," ujarnya.
Ia juga mengimbau agar warga beraktivitas secara berkelompok, menghindari kegiatan di malam hari, membuat suara bising saat berada di luar rumah, serta mengamankan hewan ternak dan peliharaan di dalam kandang.
"Langkah-langkah ini penting untuk mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar," ujar dia.