Pilu Taman Nasional Terkepung Api, Flora-Fauna Terancam

24 October 2026 08:29

Jakarta: Karhutla 2026 tidak lagi hanya mengancam lahan gambut dan hutan produksi. Api kini masuk ke Taman Nasional, kawasan yang secara regulasi paling dilindungi dan menekan habitat spesies endemik di sejumlah pulau. 


Taman nasional terbakar pada 2026


Data BNPB dan Mapbiomas Indonesia per Agustus 2026 memetakan ada 10 Taman Nasional dengan luas karhutla terbesar. Yang pertama adalah Taman Nasional Wasur di Papua Selatan berada di urutan pertama dengan 8.708 hektare. Luas ini setara dengan lebih dari 12.000 lapangan sepak bola. Berikutnya adalah Taman Nasional Lorentz seluas 6.532 hektare. Gunung Tambora 6.138 hektare. Rawa Aopa Watumohai 4.673 hektare. Dan Manupeu Tanah Daru 2.839 hektare. Sementara untuk urutan ke-6 sampai ke-10 diisi oleh Way Kambas seluas 1.756 hektare yang terbakar, Bromo Tengger Semeru sekitar 1.259 hektare. Tanjung Puting 604 hektare, Sebangau 369 hektare, dan Danau Sentarum 301 hektare. 

Distribusi data ini menunjukkan ada pergeseran pola di mana tiga posisi teratas berada di Indonesia Timur, bukan di Sumatra atau Kalimantan yang selama ini identik dengan karhutla. Artinya risiko kebakaran kini tersebar lintas pulau dan lintas tipe ekosistem mulai dari savana dan lahan basah sampai pegunungan.

Flora fauna endemik terancam


Luas area terbakar hanya satu indikator. Indikator lainnya adalah apa yang hilang di dalamnya. Lantas apa saja yang hilang di dalamnya, kita mulai dari flora. Banyak tumbuhan endemik yang memiliki kulit pohon yang tipis hingga jaringan hidupnya mudah rusak oleh panas. Karakter ini membuat mereka menjadi minim pertahanan alami terhadap api. Untuk flora yang terancam dari Karhutla adalah pohon ulin. Pohon ulin atau kayu besi adalah spesies endemik Kalimantan dengan pertumbuhan yang sangat lambat. Untuk mencapai ukuran dewasa dibutuhkan ratusan tahun. Oleh karena itu kehilangan tegakan di hutan primer Tanjung Puting dan Sebangau tidak dapat dipulihkan dalam waktu yang singkat. 

Selanjutnya adalah anggrek alam yang hidup sebagai epifit yakni menempel pada dahan pohon inang di kanopi hutan. Di Kalimantan dan Jawa Tengah termasuk di Gunung Ciremai dan Bromo Tengger Semeru, kebakaran memusnahkan inang sekaligus anggrek yang bergantung padanya. Yang ketiga adalah flora Edelweiss Jawa. Ini tumbuh di vegetasi dataran tinggi dan sabana pegunungan. Di Gunung Rinjani dan Bromo Tengger Semeru, api menghanguskan hamparannya, Padahal spesies ini menjadi ikon ekosistem pegunungan.

Dampak dari fauna terlihat lebih langsung. Fauna yang pertama adalah orangutan Kalimantan, Yaitu yang berada di Tanjung Puting dan Sebangau Kalimantan Tengah. Kebakaran gambut di zona inti merusak habitat populasi orangutan liar terbesar di dunia. Satwa ini menjadi lemas akibat paparan asap pekat. Sebagian juga mengalami ISPA dan juga sebagian ada yang mati karena terjebak api. 

Kemudian yang kedua adalah bekantan. Bekantan juga menghadapi tekanan yang berbeda, karena di kawasan konservasi dan lahan basah Kalimantan, hilangnya pohon menghilangkan tempat tinggal sekaligus sumber pakan. Satwa endemik ini terdorong ke perkebunan dan pemukiman hingga akhirnya membuka potensi konflik dengan manusia. 

Di Sumatra, Taman Nasional Way Kambas di Lampung menjadi habitat gajah Sumatra dan harimau Sumatra. Hingga Oktober 2026 tercatat puluhan insiden kebakaran di zona rimba dan rehabilitasi. Vegetasi yang hangus mengganggu jalur pergerakan dan kantong habitat kedua spesies. 

Kabut asap di Papua Selatan menjangkau pegunungan tengah Lorentz. Di situ terdapat kanguru pohon dan juga burung cenderawasih. Dua fauna terakhir yang disebut ini terancam. Jadi kedua fauna ini sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kerusakan kanopi hutan. Sehingga keanekaragaman hayati unik Papua juga menjadi ikut terancam. Untuk menekan risiko api baru dan juga melindungi kawasan, pemerintah membatasi sejumlah akses. 

Taman nasional ditutup


Terhitung hingga akhir Oktober 2026, Kementerian Kehutanan dan Balai Taman Nasional memberlakukan penutupan sementara, baik total maupun pada jalur pendakian tertentu. Kebijakan utamanya berlaku sejak 1 September. Melalui surat edaran Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Kehutanan dan Balai Taman Nasional menutup aktivitas pendakian di sembilan taman nasional secara serentak. Alasannya dua. 

Pertama adalah mencegah munculnya titik api baru dari aktivitas manusia. Dan kedua, mengefisienkan armada pemadaman di puncak musim kemarau. Kesembilan kawasan itu adalah Kerinci Seblat di Sumatra, kemudian ada Gunung Gede Pangrango dan Gunung Ciremai di Jawa Barat, Gunung Merbabu di Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Gunung Rinjani dan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat, Bukit Baka Bukit Raya di Kalimantan, dan Manusela di Maluku. 

Adapun batas waktu penutupan hingga saat ini masih belum ditentukan, karena memang sangat bergantung pada kondisi api dan juga kondisi cuaca di sembilan titik yang ditutup secara sementara oleh Kementerian Kehutanan.

Selain dilakukan penutupan serentak, beberapa kawasan juga menerapkan pembatasan tambahan sesuai dengan perkembangan api di lapangan. Misalnya  Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang ditutup total untuk seluruh aktivitas wisata sejak 12 September. Sebelumnya, area Bantengan dan Kaldera beberapa kali ditutup dan dibuka sejak bulan Agustus, ini tentunya menyesuaikan fluktuasi titik api. 

Di Gunung Rinjani, jalur pendakian via Torean ditutup sejak 23 September, dan jalur Senaru menyusul pada 26 September. Beralih di Kalimantan Tengah, ada empat pintu masuk wisata utama Tanjung Puting yang ditutup total mulai tanggal 24 Oktober. Penutupan ini mengurangi paparan asap terhadap pengunjung, sekaligus mengurangi gangguan terhadap satwa dan petugas di lapangan.

Upaya relawan dan petugas


Penanganan di lapangan dijalankan oleh tim gabungan terpadu, di antaranya Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Polisi Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, Relawan Pariwisata, hingga Masyarakat Adat. Setidaknya ada empat pendekatan utama yang diterapkan. 

Yang pertama adalah operasi pemadaman darat. Petugas memadamkan api secara langsung, menyekat penjalaran, membasahi lahan kering, lalu menyisir sisa bara atau mopping up, dan melepaskan atau mendinginkan area terdampak untuk bisa mencegah api menyala kembali. Yang kedua adalah penanganan khusus lahan gambut. Misalnya di Tanjung Puting dan juga Sebangau, api ini bisa merambat di bawah permukaan, tanpa terlihat dari atas. 

Oleh karena itu, petugas menyuntikkan air langsung ke dalam tanah untuk bisa memadamkan bara yang tersembunyi di bawah. Yang ketiga adalah pembuatan sekat bakar. Ini berlaku untuk di medan curam, seperti di Bromo Tengger Semeru. Petugas membuka jalur tanpa vegetasi sebagai penghalang penjalaran api. Tujuannya supaya bisa melokalisasi api, agar tidak meluas ke zona pemukiman. Dan yang keempat adalah penyelamatan satwa liar. Hingga pembaruan awal Oktober, tim penyelamat dan dokter hewan konservasi menangani 290 individu satwa terdampak asap dan juga api. Di antaranya adalah 96 orangutan dan 78 bekantan.

Bantuan pemerintah


Tentu tidak hanya upaya dilakukan oleh relawan dan petugas, ada pula upaya yang dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah pusat di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto menjalankan dukungan dalam 5 bidang. Yang pertama adalah dalam bidang pendanaan. Kita bisa lihat ya, per 22 Oktober 2026, pemerintah mentransfer dana darurat tahap kedua, senilai 1,235 triliun rupiah ke pemerintah daerah di provinsi prioritas. Provinsi itu meliputi Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. 

Yang kedua adalah operasi udara dan modifikasi cuaca. Helikopter BNPB melakukan pengeboman air di lereng yang sulit dijangkau oleh petugas darat. Bersama dengan BMKG, pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca. Metodenya adalah cloud seeding dan penyemaian dry ice, yaitu menebar material ke awan agar hujan turun lebih cepat di atas pusat api. Yang ketiga adalah sarana dan logistik lapangan juga pastinya diberikan bantuan dari pemerintah. Ini meliputi alat pelindung diri, pompa air, selang pemadaman, tangki air, dan sumur bor, serta jaminan logistik bagi ribuan personel yang terlibat. 

Yang keempat adalah fasilitas layanan kesehatan. Dalam hal ini adalah fasilitas kesehatan masyarakat. Di mana pemerintah mendirikan rumah oksigen portabel, membagikan masker medis, dan menyediakan pengobatan darurat ISPA di puskesmas bagi warga dan petugas yang terkena infeksi saluran pernapasan akut. Dan terakhir kelima adalah penegakan hukum. Kemenhut memperketat pengawasan terhadap pemegang izin konsesi. Per Oktober 2026, sanksi administratif telah dijatuhkan kepada 32 perusahaan yang dinilai lalai menjaga lahannya hingga terbakar.


Pernyataan Presiden Prabowo


Berikut pernyataan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto terkait dengan Taman Nasional dan juga Karhutla yang belakangan ini terjadi. Jadi Presiden Prabowo mengatakan bahwa kita tidak boleh menganggap Karhutla ini remeh. Kita akan sekarang secara masif menangani itu, tapi kita juga akan mengusut sampai tuntas. Setidaknya ada dua poin yang ditekankan oleh Presiden Prabowo Subianto ketika memberikan arahan tersebut. Yang pertama Presiden meminta peraturan daerah yang masih memberi ruang pembakaran lahan agar segera dicabut. Dan yang kedua adalah pembukaan lahan dengan cara dibakar, tidak boleh dilakukan dengan alasan apa pun dan unsur pidananya juga akan tetap diselidiki.

Karhutla di Taman Nasional memperlihatkan bahwa kerusakan ekologis dapat berjalan lebih cepat daripada pemulihannya. Penanganan darurat seperti pemadaman, penutupan akses, dan bantuan anggaran berfungsi menahan kerusakan tapi bukan mencegahnya. Ujian berikutnya ada pada penegakan hukum dan juga pembenahan tata kelola, sebab tanpa hal tersebut api yang sama berpotensi kembali di musim kemarau berikutnya.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X