Bantuan SNAP Rentan Disalahgunakan untuk Beli Junk Food

27 February 2025 19:09

Di tengah tingginya laju inflasi, banyak warga Amerika Serikat (AS) yang terbantu dengan bantuan pangan pemerintah federal yang ditujukan untuk memudahkan warga berpenghasilan pas-pasan memperoleh makanan bergizi. Tapi ada kekhawatiran jika tidak dibatasi, bantuan ini bisa digunakan untuk membeli soda, permen, dan makanan tidak sehat lainnya.

Di Kota New York, Martina Santos adalah seorang relawan untuk organisasi penyalur bantuan makanan. Sementara ia sendiri adalah penerima bantuan federal dari program bantuan nutrisi tambahan atau Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP).

"Saya menggunakan SNAP untuk kebutuhan dasar di supermarket. Saat ini adalah masa sulit. Semuanya mahal. Harga mahal luar biasa," ujar Martina.

Martina menggunakan bantuan federal hanya untuk bahan makanan segar, bergizi, dan sehat. "Saya perlu jaga diri agar umur panjang," ucapnya. 

Meski namanya program bantuan nutrisi tambahan, penerima tak terlalu dibatasi dalam hal makanan apa saja yang bisa dibeli dengan kartu bantuan nutrisi. Yang dilarang hanyalah rokok, minuman beralkohol, dan makanan yang telah dimasak termasuk makanan cepat saji. 
 

Baca juga: Bebas, Influencer yang Didakwa Atas Perdagangan Manusia Terbang ke AS

Beragam proposal bergulir di tingkat federal hingga lokal untuk membatasi penggunaan bantuan makanan ini untuk junk food alias makanan tidak sehat, permen, makanan kemasan seperti keripik kentang, es krim, dan soda. Kelompok advokasi mengatakan tak mudah untuk menerapkan pembatasan terhadap makanan tak sehat.

"Orang paham cara belanjakan uangnya agar sehat dan penuhi kebutuhan keluarga. Masalahnya hanya uang mereka tak cukup. Mungkin sambil belanja, beli soda dengan bantuan SNAP untuk hadiah anak yang lagi ulang tahun," kata West Side Campaign Against Hunger, Greg Silverman.

Ada juga kerancuan dalam jenis makanan atau minuman yang dilarang. Perundangan yang melarang soda misalnya, kadang tetap membolehkan jus kemasan dengan kandungan gula tinggi sehingga akhirnya larangan ini tidak tepat sasaran.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febriari)