28 November 2023 18:35
Pembina Perludem Titi Angraini mengungkap banyak kekhawatiran di Pemilu 2024. Hal itu sudah terlihat sejak awal tahapan Pemilu.
Menurut Titi, sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 90 yang diwarnai pelanggaran etik berat, fase awal Pemilu 2024 juga disebut kontoversial. Kontroversi itu diawali ketika verifikasi partai politik peserta pemilu.
"Ketika verifikasi partai politik menjadi peserta pemilu, itu sudah hujan laporan soal prosesnya yang tidak mencerminkan kebenaran atau dimanipulasi," kata Titi dalam tayangan Metro Hari Ini, Metro TV, Selasa, 28 November 2023.
Selain itu, akhir-akhir ini juga ditemukan pakta integritas yang menyimpang berasal dari kepala daerah. Hal itu membuat komitmen pejabat negara dipertanyakan.
"Tekanan birokrasi, dan beberapa regulasi yang berubah di tengah jalan, ketika menteri tidak harus mundur, itu mewarnai pemilu kita," beber Titi.
Titi menyebut kekhawatiran-kekhawatiran masyarakat soal Pemilu 2024 sangat beralasan. Sebab, masih banyak persoalan yang menjadi momok, dan itu terjadi dari pemilu ke pemilu.
"Mulai dari jual beli suara atau politik uang dan perilaku pragmatis dari sejumlah politisi yang masih menggunakan pendekatan pragmatis, mulai dari uang, penyebaran hoaks, disinformasi, tekanan, intimidasi dan seterusnya," ungkap Titi.
Titi mengungkap bahwa idealitas hanya bisa muncul jika semua instrumen bekerja dengan efektif. Termasuk penegakan hukum yang tidak berpihak.
Sebelumnya, calon presiden Koalisi Perubahan Anies Baswedan mengajak semua pihak memulihkan kepercayaan masyarakat kepada para penyelenggara Pemilu 2024. Pasalnya, Anies menyebut pada pemilu sebelumnya hembusan isu kecurangan tidak semasif sekarang.
"Saya berharap yang ada di ruangan ini mari kita bersama-sama kembalikan kepercayaan rakyat kepada institusi penyelenggara pemilu. Kita buktikan bahwa apa yang berkembang di masyarakat hari ini dijawab dengan netralitas," kata Anies dalam pidatonya di Rakornas Penegakkan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Pemilu 2024, Senin, 27 November 2023.
Awalnya Anies menyinggung soal ramai isu kecurangan pemilu yang terjadi belakangan ini. Anies menilai terjadi penurunan kepercayaan di masyarakat.
Ia pun meminta semua pihak termasuk pasangan capres-cawapres untuk mengembalikan kepercayaan publik. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu berharap dengan komitmen menghentikan kecurangan, maka memupus kecurigaan yang berkembang jelang kampanye.
Anies mengingatkan, tujuan pemilu bukan sekedar mencari pemenang. Melainkan menghasilkan pemimpin dan pemerintahan yang jujur, bukan hasil kecurangan.