Misteri Satpam Tewas di Waduk Jatiluhur, Kriminolog UI Soroti Hilangnya Missing Link Penyidikan

28 July 2026 20:34

Kasus tewasnya satpam PJT II, Sumarna (42), yang ditemukan di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, dengan kondisi tangan terborgol ke belakang masih menyisakan misteri. Hingga kini polisi telah memeriksa 15 saksi, melakukan tiga kali olah tempat kejadian perkara (TKP), serta memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi. Namun, belum ada satu pun tersangka yang ditetapkan.

Kriminolog Universitas Indonesia, Prof. Adrianus Meliala, menilai kendala terbesar dalam pengungkapan kasus ini adalah belum ditemukannya keterkaitan atau missing link antara korban dan pelaku.

"Yang paling terlihat adalah adanya missing link antara korban dengan pelaku. Biasanya celah itu bisa ditutup dengan bantuan rekaman CCTV, tetapi dalam kasus ini justru belum tersedia petunjuk yang mengarah ke pelaku," kata Adrianus dalam tayangan Primetime News Metro TV, Selasa 28 Juli 2026. 

Menurutnya, kondisi kawasan Waduk Jatiluhur yang relatif sepi pada malam hari turut menyulitkan penyidikan. Minimnya saksi mata, tidak adanya sistem pencatatan keluar-masuk pengunjung, serta terbatasnya bukti di lokasi membuat proses identifikasi pelaku menjadi lebih rumit.

"Kalaupun ingin mencari petunjuk lain, misalnya ada orang yang melihat rombongan motor atau sekelompok anak muda melintas, kemungkinan itu juga sangat kecil karena kawasan tersebut tidak banyak didatangi orang pada malam hari. Ditambah lagi tidak ada sistem checking terhadap pengunjung sehingga sulit mengetahui siapa saja yang masih berada di lokasi saat kejadian," ujarnya.

Meski demikian, Adrianus menilai penyidik masih memiliki peluang menemukan titik terang melalui petunjuk lain di luar lokasi kejadian.

"Saya masih melihat ada beberapa hal yang bisa menjadi clue bagi kepolisian untuk mengembangkan penyelidikan dan mengarah pada pelaku," katanya.

Terkait kondisi korban yang ditemukan dengan tangan terborgol ke belakang, Adrianus menduga borgol tersebut kemungkinan merupakan milik korban sendiri yang kemudian digunakan pelaku setelah korban dilumpuhkan.

"Saya menduga almarhum kemungkinan dikeroyok oleh beberapa pelaku, lalu borgolnya diambil dan dipakaikan kembali kepada dirinya sebelum ditenggelamkan. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan borgol itu milik orang lain karena benda seperti itu relatif mudah ditemukan di pasaran," jelasnya.

Ia juga menanggapi dugaan bahwa korban sempat menegur sekelompok geng motor sebelum akhirnya tewas. Menurut Adrianus, bukan teguran itu sendiri yang menjadi pemicu utama, melainkan respons kelompok yang merasa terusik atau harga dirinya tersinggung.

"Mereka bisa saja merasa kesenangannya diganggu, atau bahkan berada di bawah pengaruh alkohol maupun narkoba. Satpam yang bekerja sendirian dan tidak bersenjata juga berpotensi dipandang sebagai soft target. Dalam kelompok seperti itu, keputusan sering kali mengikuti kehendak kelompok, bukan lagi suara hati masing-masing," paparnya.

Adrianus menilai pembunuhan tersebut lebih mengarah pada tindakan spontan yang disertai kepanikan setelah korban dianiaya.

"Saya lebih melihat ini sebagai tindakan spontan yang kemudian diikuti kepanikan. Setelah korban dianiaya, pelaku kemungkinan tidak tahu harus berbuat apa. Membuang korban ke waduk menjadi cara yang mereka anggap paling mudah untuk menghilangkan jejak," ujarnya.

Ia menjelaskan, jeda waktu antara korban hilang sekitar pukul 03.00 WIB hingga jasad ditemukan pukul 11.00 WIB kemungkinan dipengaruhi proses alami ketika tubuh akhirnya mengapung ke permukaan air.

Untuk mengungkap kasus tersebut, Adrianus menyarankan penyidik tidak hanya berfokus pada bukti di lokasi kejadian, tetapi juga memperluas penyelidikan terhadap kelompok-kelompok yang diduga kerap beraktivitas di kawasan Waduk Jatiluhur.

"Kalau bukti di TKP sangat minim, polisi harus mulai melihat clue di luar TKP. Misalnya menelusuri kelompok geng motor yang sering masuk ke kawasan Jatiluhur pada malam hari, kemudian memeriksa alibi mereka dan mencocokkannya satu sama lain. Langkah-langkah penyelidikan di luar TKP menjadi penting untuk menutup kekurangan bukti yang ada di lokasi kejadian," tutupnya.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X