Meskipun berada di tengah keterbatasan fasilitas, semangat para tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Watubaing di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak pernah surut. Mereka terus bersiaga melayani ribuan warga terdampak gempa bumi Flores yang saat ini terpaksa mengungsi di area perkebunan warga.
Di posko kesehatan yang didirikan darurat di kebun warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, pelayanan medis harus dilakukan dengan peralatan seadanya. Bahkan di tengah gelapnya malam, ketiadaan akses listrik membuat para tenaga kesehatan ini terpaksa mengandalkan cahaya dari senter handphone sebagai sumber penerangan utama saat memeriksa kondisi fisik para pasien.
Sejak gempa bumi berskala besar mengguncang daratan Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu, para tenaga kesehatan ini terus berada di garda terdepan. Mereka tidak hanya berdiam diri menunggu keluhan di posko, melainkan aktif berkeliling dari satu tenda ke tenda lainnya demi memastikan kondisi kesehatan para pengungsi tetap terpantau dengan baik.
Petugas Kesehatan Masyarakat Puskesmas Watubaing, Damsik, menceritakan betapa menantangnya melakukan tugas medis di tengah kondisi gelap gulita. Ia berharap pemerintah segera memberikan dukungan fasilitas penerangan agar diagnosis dan penanganan medis tidak terkendala.
"Penerangannya belum ada, sehingga kami melakukan pelayanan pakai senter HP. Kami melakukan kunjungan juga dengan senter dalam perjalanan menuju ke posko-posko pengungsian di tempat-tempat tenda. Kami melayani, bertanya sakit, keluhan apa, batuk, kami langsung kunjung. Kalau gelap begini ini juga kadang-kala salah lagi. Jadi kami mengharapkan itu, salah satunya fasilitas yaitu berupa penerangan di posko kamilah," ujar Damsik dikutip dari
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin 24 Agustus 2026.
Tantangan di lapangan tidak hanya soal minimnya cahaya. Para nakes juga dihadapkan pada keterbatasan ketersediaan pasokan obat-obatan, padahal keluhan kesehatan warga terus berdatangan.
Sejumlah pengungsi mulai terserang berbagai penyakit seperti batuk, pilek, diare, hingga alergi akibat kondisi lingkungan yang kurang higienis. Kendati demikian, pemeriksaan tekanan darah, pemberian obat, hingga konsultasi kesehatan terus diprioritaskan oleh petugas kesehatan paruh waktu yang bertugas penuh dedikasi.
Kehadiran para pahlawan medis ini pun sangat dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak. Jumaldi, salah seorang pengungsi asal Desa Nangahale, menyampaikan rasa syukurnya atas ketulusan para nakes yang bersedia bekerja lintas waktu demi kesehatan para pengungsi.
"Kami ucapkan banyak terima kasih kepada tim kesehatan yang dari Puskesmas Watubaing sudah berupaya sedemikian rupa bersama kami ini sampai mereka melakukan satu shift pagi, siang, dan malam. Kami harapkan kepada pemerintah daerah ini coba dilirik juga mereka-mereka ini," kata Jumaldi.
Saat ini, tercatat ada sekitar 1.800 warga Desa Nangahale yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian di area perkebunan. Mayoritas warga mengaku belum berani untuk kembali ke rumah masing-masing karena masih diliputi bayang-bayang trauma akibat gempa bumi dan tsunami dahsyat yang pernah menyapu wilayah tersebut pada 1992 silam. Di tengah rasa cemas dan segala keterbatasan fasilitas, kehadiran para tenaga kesehatan ini menjadi penopang utama harapan hidup warga setempat.