20 August 2026 18:20
Memasuki hari kelima pascagempa bermagnitudo 7,7, kondisi ribuan pengungsi di Desa Nangahale, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih sangat memprihatinkan. Sebanyak 2.581 jiwa dilaporkan bertahan di posko pengungsian mandiri yang tersebar di area perkebunan dengan fasilitas sangat minim.
Mayoritas pengungsi adalah warga pesisir yang memilih mengungsi ke area kebun yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah mereka. Langkah ini diambil untuk menghindari ancaman tsunami sekaligus memantau tempat tinggal mereka di tengah rentetan gempa susulan yang masih terus terjadi. Tercatat sudah tiga kali guncangan susulan dirasakan warga hari ini, Kamis, 20 Agustus 2026.
Di lokasi pengungsian, warga terpaksa menggunakan terpal bekas penjemuran ikan atau bekas solar sebagai alas dan atap darurat. Bahkan, sejumlah keluarga terpantau mengungsi tanpa tenda sama sekali dan hanya berlindung di bawah pepohonan.
“Dari hari pertama sampai ini hari kami tidur tanpa tenda, hanya dengan alas tikar saja nih sampai sekarang tidak ada yang kasih kami bantuan tenda. Kemarin ada berapa puluh tenda yang dikasih kami belum terima sampai sekarang" ujar Fitriani, dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis, 20 Agustus 2026.
Kondisi ini mulai berdampak pada kesehatan kelompok rentan. Sejumlah bayi dilaporkan mengalami demam dan pilek akibat paparan cuaca dingin di malam hari tanpa perlindungan atap yang memadai. Selain masalah tempat tinggal, warga mengeluhkan distribusi logistik yang belum merata.
Sumiarsih, warga lainnya, mengungkapkan bahwa bantuan bahan pokok seperti beras dan mi instan harus dibagi untuk puluhan Kepala Keluarga (KK) dalam satu tenda, sehingga jumlahnya tidak mencukupi.
"Beras itu dalam satu karung dibagi berapa titik, berapa tenda. Per lima kilo mungkin dalam satu tenda itu merupakan jumlah KK-nya banyak, lebih dari 30 KK, 20 KK satu tenda. Mi instannya palingan lima bungkus, telur ayamnya, minyak goreng satu liter, bahkan ada dalam satu kilo itu dibagi, bagi berapa KK. Terus air minum Aqua gelas itu satu-satu dus. Terus terpal pun barusan ada, barusan satu malam kami menempati tidur di bawah terpal. Yang lainnya masih belum, sekitar empat-tiga tenda lagi masih dibutuhkan,” kata Sumiarsih.
Hingga saat ini, para pengungsi sangat mengharapkan uluran tangan dari pemerintah maupun lembaga swadaya untuk memenuhi kebutuhan mendesak, terutama fasilitas MCK darurat bagi lansia dan perlengkapan bayi guna mencegah kondisi kesehatan pengungsi semakin memburuk.