8 September 2026 20:13
Ketapang: Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, dilanda kekeringan setelah sebagian wilayahnya tercatat tidak diguyur hujan selama 68 hari. Kondisi tersebut membuat keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di area gambut.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mayoritas desa dan kecamatan di Kabupaten Ketapang telah mengalami periode tanpa hujan selama hampir tiga bulan. Cuaca di wilayah Tanjungpura, Ketapang, pada Selasa 8 September 2026 terpantau mendung dan relatif sejuk.
Hujan sangat diharapkan turun karena dapat membantu tim gabungan mengatasi kebakaran lahan gambut yang telah berlangsung lebih dari satu bulan. Kondisi lahan yang kering membuat sumber air untuk pemadaman semakin terbatas.
"Turunnya hujan diharapkan dapat segera terjadi karena salah satu kendala terberat dari para tim yang berjibaku mengalahkan nyala api adalah terbatasnya sumber air," kata Jurnalis Metro TV Ifdal Amal dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Selasa 8 September 2026.
BMKG memprediksi hujan berpotensi turun di sejumlah wilayah Kalimantan Barat pada 7-16 September 2026. Pantauan real-time juga menunjukkan hampir seluruh kecamatan di Ketapang berpotensi mengalami hujan ringan.
Sembari menunggu hujan, tim gabungan terus melakukan berbagai upaya pemadaman dari darat maupun udara. Operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan dengan menerbangkan satu unit pesawat yang membawa 800 kilogram natrium klorida (NaCl) pada ketinggian sekitar 9.000 hingga 11 ribu kaki.
Operasi tersebut menyasar sejumlah wilayah, termasuk Kubu Raya, Sanggau, dan Kabupaten Ketapang. Selain OMC, satu unit helikopter water bombing juga dikerahkan untuk melakukan penyiraman dari udara di wilayah Sungai Besar, Matan Hilir Selatan, dan sejumlah kawasan di Ketapang.
Namun, efektivitas OMC sangat bergantung pada keberadaan bibit awan. Kondisi minimnya pertumbuhan awan dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu kendala dalam upaya menghasilkan hujan buatan.
Penanganan dari darat juga terus dilakukan oleh BPBD, TNI-Polri, serta kelompok masyarakat yang secara sukarela membantu pemadaman. Petugas menyiram titik api menggunakan selang yang terhubung dengan truk pemadam kebakaran.
Lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena titik api dapat berada jauh di bawah permukaan. Pemadaman membutuhkan metode penyiraman secara injeksi atau pembuatan sumur bor di sekitar titik api agar air dapat menjangkau bagian gambut yang terbakar.
Meski demikian, kondisi karhutla di Ketapang menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Kodim 1203 Ketapang per 8 September 2026, hampir tidak ditemukan lagi hotspot dengan tingkat kepercayaan atau confidence level tinggi.
Penurunan signifikan titik panas tersebut diharapkan terus berlanjut seiring pemantauan satelit dan potensi turunnya hujan. Pemerintah dan tim gabungan masih melakukan pemantauan serta penanganan untuk memastikan karhutla di Ketapang dapat segera teratasi.