9 September 2026 19:38
BKSDA Kementerian Kehutanan bersama dengan Yayasan Inisiasi Alam dan Rehabilitasi Indonesia (YIARI) terus berupaya menyelamatkan orangutan terdampak bencana karhutla. Total ada 15 orangutan yang berhasil dievakuasi dan tengah menjalani proses rehabilitasi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Petugas BKSDA Kemenhut bersama relawan dari YIARI menyelamatkan induk dan anak orangutan bernama Mama Man dan Man, di Desa Sungai Awan Kiri, Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Sebelum terjadi bencana karhutla, induk orangutan dan anaknya ini masih memiliki ruang gerak di kawasan hutan.
Namun kondisi berubah saat api karhutla semakin mendekat ke habitat orangutan. Ancaman api dan asap pekat imbas karhutla berisiko mengganggu kesehatan orangutan. Hal ini membuat tim penyelamat memutuskan untuk mengevakuasi orangutan mencegah keduanya terpapar karhutla lebih parah.
Selain Mama Man dan Man, hingga kini sudah ada 15 orangutan yang dievakuasi dan dirawat di pusat rehabilitasi orangutan YIARI. Tujuh orangutan di antaranya bahkan sudah dilepasliarkan ke habitatnya.
Selama di lokasi rehabilitasi, langkah perawatan yang dilakukan meliputi cek kesehatan hingga mencari habitat baru bagi orangutan yang aman dari bencana karhutla.
“Biasanya akan dicek apakah ada parasit atau tidak, apakah juga ada gejala apapun, pernapasan juga. Karena biasanya kalau dia stres itu jumlah parasitnya bisa meningkat, dari asap juga mereka bisa terpengaruhi ke paru-paru. Jadi nanti itu dan akan juga kita benar-benar mengobservasi dan memeriksa dan memastikan tidak ada juga gejala infeksi ya, infeksi juga mungkin akibat ISPA ya,” Chief Executive Officer YIARI, Karmele Llano Sanchez dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Rabu, 9 September 2026.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan, tim BKSDA bersama YIARI telah mengintensifkan patroli dan pemantauan di sejumlah lokasi yang dinilai rawan karhutla sejak 1 September 2026. Menhut pun mengimbau warga segera melapor jika menemukan orangutan yang terdampak karhutla.
“Kecepatan melaporkan dan kecepatan untuk rescue ini sangat penting, karena semakin lama orangutannya mengalami, misalkan, penyakit pernapasan akibat karhutla dan terlambat untuk ditangani secara baik, maka itu akan mengakibatkan fatal. Jadi apinya kita usahakan padamkan, tapi saat bersamaan langkah emergency untuk rescue ini menjadi sangat penting sekali. Saat bersamaan kami juga memberikan dukungan penuh terhadap semua mitra, misalkan untuk mencegah tempat ini tidak terbakar,” ungkap Raja Juli.