Jakarta: Tidak lama lagi kita akan memasuki Idulfitri 1447 Hijriah. Di masyarakat Indonesia ada budaya yang sangat bagus yaitu halal bihalal.
Tapi yang perlu dicatat adalah bahwa tidak semua kesalahan mudah dihapus. Tidak semua dendam kemudian hilang. Dan tidak semua orang melupakan apa yang pernah dirasakan pahitnya oleh yang bersangkutan.
Karena itu kita perlu seni memaafkan. Kunci seni memaafkan adalah, satu bahwa kita harus menerapkan kepada diri kita bahwa kita adalah cinta damai. Yang kedua bahwa tidak selamanya orang itu akan tetap dalam perbuatannya dia sebagai orang yang menyakiti.
Boleh jadi ketika dia sadar dia juga akan memaafkan dan akan memperbaiki perilakunya. Karena itu yang terpenting di bulan Ramadan ini adalah bagaimana kita semua punya teknik yang matang untuk menjadi manusia yang dewasa. Meskipun kita tahu bahwa secara psikologis anak-anak kecil ketika berbuat salah antar mereka itu justru lebih mudah memaafkan dibanding orang tua.
Karena itu dalam konteks Idulfitri mungkin fase pertumbuhan anak itu yang perlu kita pegangi. Bahwa kesalahan tidak harus kemudian disimpan selama-lamanya dalam hati kita sehingga kemudian pintu maaf sulit kita buat. Tapi justru bagaimana kita melupakan kesalahan mereka dengan tanpa terpaksa.
Idulfitri adalah bulan rekonsiliasi. Tapi yang perlu dicatat adalah jangan sampai kemudian kita terpaksa memaafkan. Sehingga dalam budaya Jawa misalnya bahwa Idulfitri itu adalah bulan dimana ketika kita melabur kemudian melebur dan bertabur.
Karena biasanya bukan sekedar kita bersalam-salaman tapi justru kita mengaku bahwa kita pernah bersalah. Dan yang terpenting adalah kemudian menghiasi perilaku kita dengan perilaku-perilaku yang baik. Itulah seni bagaimana kita ber-Idulfitri yang sesuai dengan agama dan juga sesuai dengan budaya.