Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, membawa kerugian ekologis yang masif. Tak hanya menghanguskan ratusan hektare vegetasi, kobaran api juga merenggut nyawa serta menghancurkan habitat perlindungan dan sumber pakan satwa liar.
Saat menyisir area hutan yang terbakar di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, petugas gabungan menemukan sejumlah bangkai dan tengkorak satwa liar. Bangkai tersebut diduga kuat merupakan jenis teledu dan kijang yang tak sempat menyelamatkan diri dari kepungan api.
Selain itu, petugas juga mendapati jejak kaki macan kumbang atau macan tutul di sekitar lokasi kebakaran.
Kepala Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Bambang Suriyono, mengonfirmasi penemuan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihak TNBTS tengah melakukan identifikasi lebih lanjut terkait temuan sisa-sisa satwa di lokasi.
"Ada satu satwa yang ditemukan mati. Kemudian ada tengkorak satwa, namun kami masih akan memastikan apakah itu sudah lama mati atau murni akibat dampak dari kebakaran saat ini," ungkap Bambang dikutip dari
Metro Hari Ini, Metro TV, Rabu 2 September 2026.
Terkait temuan jejak macan tutul, Bambang menyebut bahwa satwa dilindungi tersebut kemungkinan besar masih hidup dan tengah berpindah mencari lokasi yang aman dari amukan api.
Berdasarkan data sementara dari Balai Besar TNBTS, luasan area hutan Semeru yang hangus terbakar kini telah mencapai 600 hektare. Angka ini memunculkan kekhawatiran bahwa masih banyak satwa liar lain yang turut terdampak dan menjadi korban.
Hingga kini, kondisi kebakaran hutan di kawasan Semeru masih belum sepenuhnya terkendali. Petugas terus mendeteksi kemunculan sejumlah titik api baru, beberapa di antaranya dilaporkan mulai merambat mendekati kawasan vital seperti hutan di sekitar Danau Ranu Kumbolo dan tebing Watu Rejeng.