Terpapar Asap Karhutla, Orang Utan Jantan Ditemukan Lemas di Perkebunan Warga Ketapang

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi menemukan seekor Orangutan jantan dewasa dalam kondisi lemas di per

Terpapar Asap Karhutla, Orang Utan Jantan Ditemukan Lemas di Perkebunan Warga Ketapang

Whisnu Mardiansyah • 31 August 2026 12:58

Ketapang: Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi seekor orang utan jantan dewasa dari area perkebunan warga di Kabupaten Ketapang.

Orang utan bernama Sampurna tersebut ditemukan dalam kondisi lemas setelah diduga terpapar asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kawasan habitatnya.

Staf SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat Sarbandi mengatakan Sampurna ditemukan di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, pada Minggu, 30 Agustus 2026. Tim bergerak setelah menerima laporan masyarakat terkait keberadaan orang utan di sekitar perkebunan.

"Orang utan tersebut ditemukan di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Minggu kemarin. Setelah menerima informasi dari masyarakat mengenai keberadaan Orangutan di sekitar perkebunan, kami langsung melakukan pengecekan ke lapangan dan menemukan orangutan tersebut dalam kondisi lemas," kata Staf SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat Sarbandi, di Ketapang, seperti dilansir Antara, Senin, 31 Agustus 2026.
 


Sampurna pertama kali dilaporkan warga sekitar pukul 06.00 WIB. Saat ditemukan, satwa tersebut berada dalam kondisi lemas dan tidak sadarkan diri di area perkebunan kelapa sawit milik masyarakat.

"Sampurna pertama kali dilaporkan warga sekitar pukul 06.00 WIB dalam kondisi lemas dan tidak sadarkan diri di sekitar perkebunan sawit milik masyarakat," katanya.

Sarbandi menuturkan kebakaran dengan kondisi cukup parah terjadi di sekitar lokasi sehari sebelum proses evakuasi. Ketika tim tiba pada Minggu pagi, asap masih tampak tebal di kawasan tersebut. Kondisi itu diduga turut memengaruhi kesehatan Sampurna. Tim menduga orangutan tersebut berpindah dari habitatnya akibat kebakaran hingga akhirnya masuk ke area perkebunan masyarakat.

"Diduga akibat kebakaran hutan dan lahan, orangutan bergeser dari habitatnya dan kemudian berada di area perkebunan," katanya.

Dokter hewan YIARI Komara menjelaskan paparan asap karhutla berpotensi memengaruhi sistem pernapasan satwa liar. Partikel dan zat yang terkandung dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu fungsi paru-paru.

"Asap karhutla mengandung berbagai partikel dan zat yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu fungsi paru-paru," ujar Komara.


Orang utan di Ragunan. Foto: Metro TV/Rifda Muthia Zahra


Menurut dia, paparan asap dengan konsentrasi tinggi dalam waktu beberapa hari dapat menimbulkan gangguan pernapasan hingga kekurangan oksigen atau hipoksia. Karena itu, tim medis melakukan pemeriksaan terhadap Sampurna untuk mengetahui kondisi kesehatannya secara menyeluruh, termasuk memeriksa kemungkinan gangguan pada paru-paru maupun organ internal lainnya.

"Pemeriksaan menyeluruh dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan Sampurna, termasuk kemungkinan kerusakan atau gangguan pada paru-paru dan organ dalam lainnya," katanya.

Direktur Operasional YIARI Argitoe Ranting mengatakan kondisi karhutla yang masih berlangsung membuat tim meningkatkan kesiapsiagaan. Laporan masyarakat terkait keberadaan satwa liar terdampak menjadi salah satu perhatian dalam upaya penyelamatan.

"Tim medis dan tim penyelamatan YIARI kami siagakan selama 24 jam untuk merespons laporan dan melakukan tindakan penyelamatan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan," ujar Argitoe.

Evakuasi Sampurna menambah daftar orangutan yang diselamatkan BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI akibat dampak karhutla sepanjang Agustus 2026.

(Whisnu M)