Jakarta: Pada Senin, 27 April 2026 malam, dunia transportasi Tanah Air kembali berduka setelah insiden maut terjadi di Stasiun Bekasi Timur. Kecelakaan yang melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line tersebut merenggut 15 nyawa dan 84 korban luka.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit mengenai deretan kecelakaan kereta api terparah yang pernah tercatat dalam sejarah Indonesia.
Berikut 7 tragedi KA terparah dalam sejarah Indonesia:
1. Tragedi Lembah Anai (1944)
Terjadi pada 25 Desember 1944 di Padang Panjang, Sumatera Barat, saat masa pendudukan Jepang. Kegagalan sistem pengereman di jalur ekstrem mengakibatkan kereta meluncur tak terkendali dan menewaskan sekitar 200 orang.
2. Tabrakan Ratujaya (1968)
Terjadi pada 20 September 1968 di Cipayung, Depok. Akibat pola operasional yang masih manual, dua kereta bertabrakan frontal yang merenggut 116 nyawa dan menyebabkan kerugian materiil hingga Rp7,8 juta pada masa itu.
3. Tragedi Bintaro I (1987)
Kecelakaan paling ikonik yang terjadi pada 19 Oktober 1987 di Pondok Betung. Tabrakan "adu banteng" antara KA Ekonomi Patas dan KA Lokal ini menewaskan lebih dari 139 orang dan menjadi duka nasional.
4. Tabrakan KRL Ratujaya (1993)
Terjadi pada 2 November 1993 di lintas Depok-Citayam. Miskomunikasi antar petugas Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) menyebabkan dua rangkaian KRL Ekonomi bertabrakan dan menewaskan 20 orang.
5. Tragedi Ketanggungan Barat (2001)
Terjadi pada 25 Desember 2001 di Brebes. PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) menyatakan insiden yang menewaskan 31 orang ini disebabkan oleh human error (kesalahan manusia) setelah hasil pemeriksaan membuktikan sistem pengereman berfungsi normal.
6. Tragedi Petarukan (2010)
Pada 2 Oktober 2010, KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KA Senja Utama Semarang yang tengah berhenti menunggu sinyal. Sebanyak 34 orang tewas dalam peristiwa yang menghancurkan gerbong ekor kereta tersebut.
7. Tabrakan Cicalengka (2024)
Terjadi pada 5 Januari 2024 di Kabupaten Bandung. Laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebut malfungsi peralatan persinyalan menjadi penyebab KA Turangga bertabrakan dengan Commuter Line Bandung Raya yang menewaskan empat petugas.
Audit menyeluruh
Rentetan peristiwa memilukan ini menjadi alarm keras bagi otoritas transportasi nasional untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap sistem keamanan perkeretaapian.
Penajaman teknologi persinyalan otomasi dan peningkatan standar kompetensi sumber daya manusia menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi, demi memastikan tidak ada lagi nyawa yang dikorbankan di atas rel besi.
Seiring dengan proses investigasi yang masih berjalan di Stasiun Bekasi Timur, masyarakat berharap adanya transparansi dan langkah konkret dari pemerintah serta PT KAI dalam meminimalisir risiko kecelakaan.
Komitmen untuk mengutamakan keselamatan penumpang harus tetap menjadi prioritas utama guna memulihkan kepercayaan publik terhadap keandalan transportasi massal di Tanah Air.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Muhammad Fauzan)