Texas: Kemegahan Piala Dunia 2026 tidak lepas dari keringat dan dedikasi para pekerja relawan di balik layar. Mereka bekerja keras agar pesta sepak bola dunia yang berlangsung empat tahun sekali itu bisa berjalan lancar.
FIFA menjaring para sukarelawan dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia. Mita Yulian Sasmita, misalnya. Dia merupakan satu dari ribuan orang asal Indonesia yang berhasil lolos menjadi sukarelawan FIFA.
Mita, yang berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris, telah tiga kali menjalani peran sukarelawan di Piala Dunia. Mulai dari edisi Rusia (2018), Qatar (2022), dan Piala Dunia tahun ini yang digelar di Kanada-Amerika Serikat-Meksiko.
Pada dua edisi sebelumnya, Mita bertugas pada bagian ticketing. Sementara dalam edisi kali ini, Mita yang ditempatkan di Dallas, Texas, Amerika Serikat, mendapatkan tugas pada bagian broadcast services.
Dia menjadi salah satu petugas yang memastikan pertandingan Piala Dunia bisa dinikmati penonton secara lancar dari berbagai negara. Sejauh ini, dia sudah bekerja di empat area.
"Yang pertama di media center. Di sini, biasanya aku bertemu dengan media-media dari seluruh dunia terkait kebutuhan mereka. Misalnya tempat fotografi, gimana (fotografer) caranya ke lapangan," ujar Mita, dalam program
Metro Sport Metro TV, Senin, 13 Juli 2026.
Kemudian dia bekerja di area tribun. Di sana, Mita memastikan para awak media duduk di kursi yang sudah ditentukan.
Area selanjutnya
presentation platform, area para tokoh sepak bola (biasanya para pemain legenda) memberikan komentar pertandingan. Tugasnya Mita memastikan para penggemar tidak mengganggu pada tokoh sepak bola yang sedang memberikan komentar secara
live. Dia juga bekerja sama dengan petugas keamanan.
"Area terakhir, area para pemain sepak bola sedang diwawancara," tutur Mita.
Mita punya kenangan manis saat bekerja di area presentation platform. Saat itu, Mita bisa mengawal legenda Timnas Denmark, Peter Schmeichel, dan legenda Timnas
Belanda, Clarence Seedorf. Bertemu mereka seperti mimpi yang terwujudkan.
"Buat anak 90-an kayak aku, mereka itu memang benar-benar
legend. Jadi, melihat mereka jalan di depan itu sudah kayak, 'oke tenang-tenang', karena tidak boleh bereaksi berlebihan. Di sana harus tetap bekerja profesional," kata Mita.
Di sisi lain, keuntungan Mita menjadi sukarelawan ini bisa menambah teman baru. Sejauh ini, Mita sudah banyak bergaul dengan para jurnalis dari berbagai negara.
"Aku pernah ketemu sama jurnalis dari Bangladesh. Dia sudah meliput tujuh edisi Piala Dunia sejak 90-an. Terus aku juga ketemu dengan media dari Brasil. Kami tukeran suvenir. Aku kasih dia uang rupiah, dia kasih aku stiker bendera Brasil. Setiap bertugas pasti ada saja ceritanya," tuturnya.