Hamas Temui Mediator Mesir Bahas Pelanggaran Senjata Israel di Gaza

9 June 2026 21:23

Delegasi kelompok Hamas mengadakan pertemuan dengan sejumlah mediator di Mesir guna membahas kelanjutan gencatan senjata dengan Israel. Pertemuan ini dilakukan di tengah situasi keamanan yang terus memburuk akibat serangan militer Israel yang tetap berlangsung di wilayah Jalur Gaza meskipun gencatan senjata diberlakukan.

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa pihaknya telah bertemu dengan mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki pada Minggu, 7 Juni 2026. Fokus utama dari pertemuan tersebut adalah mencari solusi efektif untuk memastikan implementasi penuh dari fase pertama perjanjian gencatan senjata Gaza.

Selain itu, Hamas mendesak pemenuhan ketentuan kemanusiaan serta penghentian segera aksi pembunuhan terhadap warga Palestina. Dalam pernyataan resminya, Hamas juga menyoroti perlunya perbaikan pendekatan operasional Dewan Perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat agar tetap setia pada prinsip keadilan dan tidak memihak kepada Israel.
 

Baca juga: Hamas Kutuk “Pembantaian mengerikan” oleh Israel di Gaza

Serangan Israel Terus Memakan Korban

Meski upaya diplomatik sedang berjalan, serangan udara dan darat militer Israel dilaporkan masih terus menggempur wilayah Gaza dan Lebanon. Pada hari Minggu, setidaknya empat warga Palestina tewas setelah sebuah kendaraan di bagian barat Kota Gaza dihantam serangan Israel.

Beberapa jam sebelumnya, serangan serupa di Kota Khan Yunis juga merenggut nyawa lima orang warga. Pihak militer Israel mengeklaim bahwa target serangan mereka adalah para pejuang Hamas yang dianggap menimbulkan ancaman bagi Israel. Namun, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa pasukan Israel berulang kali menembaki warga sipil yang berada di dekat zona kendali militer.

Berdasarkan data yang dihimpun, meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas secara teknis mulai berlaku sejak Oktober 2025, angka kekerasan di lapangan tetap tinggi. Sejak 11 Oktober 2025, tercatat sedikitnya 961 warga Palestina tewas dan lebih dari 3.000 orang mengalami luka-luka di wilayah Gaza.

(Anggie Meidyana)