25 September 2026 08:28
Bogor: Indonesia mengekspor 8.475 unit vaksin unggas ke empat negara di Afrika, yakni Zambia, Kongo, Uganda, dan Malawi. Ekspor dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Japfa Comfeed Indonesia melalui Vaksindo Satwa Nusantara.
Vaksin tersebut diproduksi secara massal di Indonesia dan diekspor untuk memperluas akses peternak di negara tujuan terhadap vaksin hewan berkualitas sekaligus mendukung produktivitas peternakan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda mengatakan ekspor tersebut menjadi pencapaian penting dalam upaya memperluas pangsa pasar produk Indonesia.
“Ini merupakan pencapaian yang luar biasa dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan tentu mendukung dan mengapresiasi upaya perluasan pangsa ekspor kita sesuai dengan arahan Bapak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman,” kata Agung dalam tayangan Headline News Metro TV, Jumat 25 September 2026.
Agung mengatakan pemerintah mendorong produk peternakan Indonesia tidak hanya diproduksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mampu menembus pasar ekspor.
“Kita harus bisa bukan hanya memproduksi produk untuk kepentingan di dalam negeri, tetapi juga bisa kita ekspor,” ujarnya.
Baca Juga :
Presiden Direktur Vaksindo Satwa Nusantara Teguh Yodiantara Prajitno mengatakan pasar vaksin unggas global saat ini semakin terbatas. Menurutnya, jumlah perusahaan vaksin yang besar semakin sedikit dengan fasilitas produksi yang juga terbatas.
“Ketika dulu ada mungkin puluhan perusahaan vaksin, sekarang tinggal ada tiga empat yang besar dan fasilitasnya juga atau lokasi produksinya juga terbatas sehingga mereka itu memang harus cari vaksin yang tepat,” kata Teguh.
Teguh mengatakan kondisi tersebut membuka peluang bagi produsen Indonesia, terutama karena kebutuhan vaksin di negara tropis membutuhkan produk yang sesuai dengan kondisi setempat.
“Ketika produsennya di Amerika, mereka tidak bakal bisa menggunakan vaksin-vaksin yang atau seed vaksin yang sesuai dengan negara-negara tropis. Jadi itu tidak cocok,” ujarnya.
Menurut Teguh, kondisi tersebut menjadi peluang untuk memperluas penggunaan vaksin Indonesia di pasar negara tropis dengan produk yang dinilai relevan bagi kebutuhan peternak.
“Nah ketika produsennya di Amerika, mereka tidak bakal bisa menggunakan vaksin-vaksin yang atau seed vaksin yang sesuai dengan negara-negara tropis. Jadi itu tidak cocok, sehingga buat kita itu adalah kesempatan ya, dengan vaksin yang tepat yang cocok, relevan bagi peternak,” kata Teguh.