Madinah: Di tengah padatnya aktivitas musim haji di Arab Saudi, kehadiran dapur katering Indonesia menjadi salah satu penopang penting bagi kenyamanan calon jemaah haji.
Tak sekadar menyediakan makanan, dapur ini juga menghadirkan cita rasa Nusantara yang mampu mengobati kerinduan jemaah terhadap kampung halaman.
Aroma rempah khas Indonesia langsung terasa saat memasuki dapur Uhud Taiba for Catering yang berlokasi di Prince Naif bin Abdulaziz Road, Madinah. Puluhan juru masak asal Indonesia tampak sibuk menyiapkan berbagai hidangan, mulai dari mengolah bumbu, menggoreng ayam, hingga memanggang daging.
Dapur ini menjadi salah satu andalan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi ribuan
jemaah haji Indonesia. Setiap hari, sekitar 6.000 porsi makanan disiapkan untuk tiga kali makan, yakni sarapan, makan siang, dan makan malam.
Kepala Chef dapur, Suhendi, menjelaskan bahwa pelayanan maksimal diberikan karena jemaah dianggap sebagai keluarga sendiri.
“Di sini satu hari kami bisa melayani 6.000 porsi. Satu kali makan sekitar 2.000 porsi, jadi tiga kali makan total 6.000. Bahkan ke depan bisa mencapai 10.000 porsi per hari,” ujar Suhendi.
Ia menambahkan, menu yang disajikan merupakan pilihan dari pemerintah dengan tujuan menjaga konsistensi
cita rasa khas Indonesia bagi para jemaah.
“Pemerintah menginginkan jemaah mendapatkan cita rasa yang sama seperti di Indonesia. Karena itu, bumbu pasta seperti rendang, balado, hingga nasi goreng kampung didatangkan langsung dari Tanah Air,” jelas Suhendi.
Keistimewaan dapur ini terletak pada penggunaan
bumbu autentik Indonesia. Berbagai menu khas seperti rendang, teri balado, orek tempe, hingga tongseng disajikan dengan rasa yang tetap terjaga meski diolah di luar negeri.
Selain itu, seluruh proses produksi makanan diawasi secara ketat untuk memastikan kebersihan dan kualitas. Para pekerja diwajibkan menggunakan alat pelindung diri, sementara standar gizi setiap hidangan diawasi oleh tenaga profesional.
“Untuk tahun ini, standar porsi sudah ditentukan, mulai dari nasi 170 gram, lauk 80 gram, hingga sayur 75 gram. Semua juga diawasi dokter untuk memastikan kebersihan dan kualitas makanan,” tambah Suhendi.
Proses memasak hingga pengemasan dilakukan secara efisien, yakni sekitar dua jam. Setelah itu, makanan langsung didistribusikan dalam kondisi hangat dan higienis kepada jemaah.
Kehadiran dapur katering ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menghadirkan nuansa rumah bagi jemaah di Tanah Suci. Dengan dukungan konsumsi yang terjaga, jemaah diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan tenang.