Cuaca ekstrem tengah menyelimuti Kota Madinah menjelang puncak musim haji 2026. Suhu udara yang terus meningkat diperkirakan dapat menembus angka 45 derajat Celcius. Kondisi ini memicu peringatan serius dari pemerintah bagi calon jemaah haji Indonesia, terutama terkait risiko kesehatan fisik dan ancaman kaki melepuh.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Khalilurrahman, mengungkapkan, bahwa kasus kaki melepuh kerap terjadi setiap tahun. Para jemaah kerap berjalan tanpa alas kaki akibat kehilangan atau lupa membawa sandal setelah beribadah di Masjid Nabawi.
“Kasus kaki melepuh setiap tahunnya sering kali terjadi setelah jemaah keluar dari masjid dan lupa membawa sandal atau sandal tertinggal. Ke hotel tidak memakai sandal, akibatnya kakinya melepuh,” ujar Khalilurrahman, dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Kamis 23 April 2026.
Ia menyarankan para jemaah membawa kantong khusus sandal agar lebih praktis dan aman. Bagi jemaah lanjut usia (lansia) atau dengan kondisi kesehatan tertentu, dianjurkan untuk tidak memaksakan diri beribadah di Masjid Nabawi saat cuaca ekstrem. Sebagai alternatif, ibadah dapat dilakukan di hotel masing-masing.
Di sisi lain, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Madinah dipastikan siap menghadapi potensi lonjakan kasus kesehatan. Petugas kesehatan disiagakan di berbagai sektor, termasuk di sekitar Masjid Nabawi, untuk memberikan penanganan cepat bagi jemaah yang mengalami gangguan kesehatan.
Jika kondisi jemaah tidak dapat ditangani di lokasi, mereka akan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Terkait pelaksanaan
arbain atau salat berjamaah 40 waktu berturut-turut di
Masjid Nabawi, jemaah diimbau untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan serta jadwal keberangkatan dan kepulangan. Disiplin waktu dan kesiapan fisik menjadi kunci agar ibadah dapat dijalankan dengan aman.
"Yang kedua memperhatikan waktu kedatangan dan kepulangan. Jika seandainya memungkinkan berdasarkan jadwal kedatangan kepulangan memang memungkinkan jemaah itu melaksanakan arbain agar disiplin waktu memulai arbainnya," ucapnya.
Khalilurrahman menjelaskan, kondisi cuaca di Madinah memiliki perbedaan signifikan antara pagi dan siang hari. Pada siang hari bisa mencapai 35 derajat Celcius.
“Cuaca di Kota Madinah kalau pagi cukup bersahabat. Namun yang perlu diwaspadai di kala siang hari memang cukup ekstrem, bisa mencapai 35 derajat Celcius,” kata Khalilurrahman.
Ia menegaskan bahwa risiko utama yang dihadapi jemaah adalah dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebih. Oleh karena itu, jemaah diminta lebih waspada dan mempersiapkan diri dengan perlengkapan pelindung. Misalnya, payung, masker, kacamata, membawa air minum, dan semprotan air untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Dia secara khusus mengimbau jemaah untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada pukul 11.00 hingga 16.00 waktu setempat. Pada rentang waktu tersebut, paparan sinar matahari berada pada titik paling terik dan berisiko tinggi menyebabkan
heat stroke.
Selain itu, jemaah diingatkan untuk menggunakan masker. Tidak hanya untuk melindungi dari panas, tetapi juga dari debu, lantaran banyaknya aktivitas pembangunan di sekitar kawasan Madinah.