Bandar Lampung: Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi cuaca di perairan Selat Sunda membuat sejumlah nelayan payang di Pantai Sukaraja, Bandar Lampung, memilih tidak melaut. Mereka khawatir dengan arus deras serta sebaran abu vulkanik yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan.
Beberapa perahu nelayan masih terlihat bersandar di bibir Pantai Sukaraja. Kondisi tersebut terjadi setelah adanya peringatan mengenai potensi arus deras dan gelombang tinggi di perairan Selat Sunda dan sekitar Gunung Anak Krakatau.
Selain kondisi perairan, sebaran abu vulkanik juga menjadi kekhawatiran nelayan. Abu yang terbawa angin dikhawatirkan mengganggu kesehatan, terutama mata dan pernapasan.
Salah seorang nelayan payang, Fandi, mengatakan dampak abu vulkanik sudah dirasakan selama sekitar setengah bulan terakhir.
"Ada ini abunya," kata Fandi.
Menurut Fandi, kondisi perairan juga menjadi pertimbangan utama bagi nelayan untuk tidak memaksakan diri melaut. Arus yang deras dinilai dapat membahayakan nelayan meski lokasi pencarian ikan tidak berada tepat di sekitar Gunung Anak Krakatau.
"Dampaknya ya, harusnya deras tuh dari bawah," ujarnya.
Pendapatan Nelayan Turun Drastis
Keputusan untuk tidak melaut berdampak langsung terhadap pendapatan nelayan. Fandi menyebut penghasilannya mengalami penurunan yang sangat signifikan akibat kondisi tersebut.
"Ngaruh besar lah... sembilan puluh lima persen," ungkap Fandi.
Ia mengatakan nelayan memilih menerima kondisi tersebut daripada memaksakan diri melaut dalam situasi yang dinilai berisiko. Keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum kembali mencari ikan.
"Ya udah terima apa adanya aja ya. Bisa kita mau kita paksain, ya kan susah sendiri kalau dipaksain," tutur Fandi.
Para nelayan berharap pemerintah dapat memberikan bantuan atau solusi selama mereka belum dapat melaut. Mereka juga membutuhkan informasi terkini mengenai kondisi perairan dan keamanan aktivitas melaut agar dapat kembali mencari ikan ketika situasi dinyatakan aman.