Jakarta: Perkembangan kecerdasan buatan (AI) melaju pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan kemampuan mulai dari menjawab pertanyaan kompleks hingga menghasilkan gambar, video, dan tulisan. Meski begitu, para ahli menegaskan AI tetap memiliki batas mendasar yang tidak dapat dilampaui.
AI Tak Punya Emosi dan Empati
Pakar teknologi menilai, salah satu keterbatasan utama AI adalah ketiadaan emosi dan empati yang nyata. Menurut peneliti etika AI dari
Massachusetts Institute of Technology (MIT), Sherry Turkle, AI memang dapat meniru bahasa empati melalui data dan pola percakapan, tetapi tidak memiliki pengalaman emosional yang sesungguhnya.
“AI tidak merasakan sedih, bahagia, atau kehilangan. Ia hanya mensimulasikan respons,” ujar Sherry dikutip dari laman MIT, Minggu, 25 Januari 2025.
Selain itu, AI juga tidak memiliki kesadaran dan intuisi sebagaimana manusia. UNESCO dalam dokumen Ethics of Artificial Intelligence menegaskan bahwa AI bekerja berdasarkan algoritma dan data historis, bukan pengalaman hidup atau penilaian intuitif. Karena itu, keputusan AI bersifat komputasional, bukan refleksi nilai atau kebijaksanaan manusia.
AI Tak Memiliki Tanggung Jawab Moral
Keterbatasan lain yang kerap disorot adalah aspek tanggung jawab moral. Menurut laporan
World Economic Forum (WEF), AI tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara etis maupun hukum. Jika terjadi kesalahan atau penyalahgunaan, tanggung jawab tetap berada pada manusia, mulai dari pengembang, pemilik sistem, hingga pengguna teknologi tersebut.
Dalam konteks sosial,
AI juga dinilai belum mampu memahami nilai budaya secara utuh. Pakar komunikasi digital dari
University of Oxford, Luciano Floridi, menjelaskan bahwa norma sosial dan budaya bersifat dinamis dan kontekstual.
“Apa yang dianggap normal di satu masyarakat bisa menjadi pelanggaran serius di masyarakat lain, dan ini sering kali luput dari pemahaman mesin,” jelas Luciano.
Lebih jauh, para ahli sepakat bahwa
AI tidak dapat menggantikan relasi manusia yang sesungguhnya. Hubungan emosional, kepercayaan, dan ikatan sosial dibangun melalui pengalaman, kehadiran fisik, serta interaksi emosional yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma.
Meski demikian,
AI tetap dipandang sebagai alat yang sangat berguna untuk membantu kehidupan manusia. Para pakar menekankan pentingnya menempatkan teknologi sebagai pendukung, bukan pengganti peran manusia. Keseimbangan antara inovasi dan nilai kemanusiaan dinilai menjadi kunci agar perkembangan AI tetap membawa manfaat, bukan justru menciptakan ketergantungan berlebihan.
Karena pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan buatan, tetapi juga oleh kebijaksanaan, empati, dan tanggung jawab manusia dalam menggunakannya.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Calista Vanis)