Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Kondisi udara di Kota Palangka Raya dan Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, dilaporkan memburuk hingga masuk ke kategori berbahaya bagi kesehatan.
Di Palangka Raya, kabut asap tipis terpantau menyelimuti jalanan kota sejak pagi hingga siang hari. Berdasarkan data pemantauan, indeks kualitas udara tercatat menembus angka 354, yang tergolong dalam kategori sangat berbahaya.
Berdasarkan data pantauan di tingkat provinsi, terdeteksi setidaknya 534 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Kalimantan Tengah. Tiga di antaranya berada di Kecamatan Rakumpit dan Kecamatan Sebangau, Palangka Raya. Akibat rentetan kebakaran lahan gambut, total luas hutan dan lahan yang terbakar di wilayah Palangka Raya kini telah mencapai 1.466 hektare.
Dampak pekatnya kabut asap kian memicu lonjakan kasus gangguan pernapasan. Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 13.412 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi dalam kurun waktu 1 Juni hingga 31 Oktober.
Salah seorang warga Palangka Raya, Lely, menuturkan bahwa meski hujan sempat mengguyur wilayah tersebut, asap tebal masih terus muncul menyusul bara api di lahan gambut yang belum padam sepenuhnya.
"Kabut asap masih turun lumayan, walaupun tipis. Kemarin sempat hujan, tapi hari ini masih ada kabut asap. Harapan kami semoga kebakaran hutan ini dapat segera ditangani dan tidak terus berlanjut," kata Lely, dikutip dari tayangan Metro Hari Ini, Metro TV, Selasa, 3 November 2026.
Kualitas Udara Sampit Capai Level Mengkhawatirkan
Kondisi tak kalah memprihatinkan terjadi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Paparan kabut asap karhutla yang kian pekat membuat angka kualitas udara melonjak tajam hingga mencapai level 893, masuk kategori sangat berbahaya.
Pekatnya kepungan asap mengganggu mobilitas harian serta perekonomian masyarakat setempat, terutama para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di luar ruangan.
Salah seorang pedagang di Sampit, Taslim, mengaku omzet penjualannya merosot drastis lantaran warga membatasi aktivitas keluar rumah.
"Agak sepi, soalnya banyak warga yang tidak keluar waktu asap tebal. Harapannya mudah-mudahan hujan turun terus, biar asapnya hilang dan karhutla bisa cepat berhenti," keluh Taslim.
Kembalinya
kabut asap pekat di Kalteng mengindikasikan titik-titik api di kawasan hutan dan lahan gambut masih belum sepenuhnya padam. Petugas gabungan dan masyarakat setempat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan serta mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.