6 November 2026 17:22
Jakarta: Serangan jantung dapat terjadi tanpa disadari ketika seseorang mengabaikan gejala awal yang muncul. Keluhan seperti nyeri dan kebas pada leher serta pundak hingga sesak napas terkadang dianggap sebagai masuk angin atau kelelahan. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi tanda gangguan pada jantung.
Pengalaman tersebut dialami Darmin Sanuri (55) yang pernah mengalami serangan jantung hingga harus menjalani pemasangan dua ring pada pembuluh darah jantung. Sebelum mendapatkan penanganan medis, Darmin mengaku kerap merasakan nyeri dan kebas pada bagian leher serta pundak selama kurang lebih tiga minggu.
"Awalnya itu saya anggap kayak masuk angin. Setelah dikerik, sembuh sebentar, timbul lagi," ujar Darmin dalam program Go Healthy Metro TV, Jumat 6 November 2026.
Keluhan tersebut semakin memburuk hingga akhirnya Darmin tidak mampu beraktivitas dan harus dibawa ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kolesterolnya mencapai 300-an mg/dL, sementara tekanan darahnya sempat berada di kisaran 190 mmHg.
Darmin mengungkapkan, sebelumnya ia memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak dan bersantan, jarang berolahraga, serta sering begadang karena bekerja dengan sistem shift selama lebih dari 20 tahun.
Praktisi kesehatan Prettysia Suvarly menjelaskan, nyeri dada atau angina pektoris dapat dibedakan menjadi angina stabil dan tidak stabil. Angina stabil umumnya membaik setelah beristirahat, tetapi bukan berarti kondisi tersebut boleh diabaikan.
"Nyeri dada yang membaik dengan istirahat, itu jangan dibiarkan begitu saja. Itu tetap kenapa-napa," kata Prettysia.
Ia menjelaskan, angina stabil dapat terjadi akibat penyempitan pembuluh darah. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut berisiko berkembang menjadi angina tidak stabil ketika terjadi penyumbatan lebih lanjut.
Selain penyakit jantung, tekanan darah tinggi juga perlu diperhatikan. Dokter spesialis penyakit dalam dr. Gunawan Ari Wibowo, Sp.PD, menjelaskan salt-sensitive hypertension merupakan kondisi ketika tekanan darah seseorang lebih mudah meningkat akibat konsumsi natrium atau garam.
"Pada orang yang dengan salt-sensitive hypertension, hanya sedikit garam yang dikonsumsi, tekanan darahnya akan langsung meningkat," jelas dr. Gunawan.
Ia menyebutkan, salah satu langkah untuk mengatasinya adalah menerapkan diet rendah garam. Pasien dengan hipertensi atau salt-sensitive hypertension dianjurkan membatasi asupan natrium sekitar 1,5 gram per hari.
Simak selengkapnya dalam program Go Healthy Metro TV.
Apa itu teknologi laser?