Mensos Sebut Sekolah Rakyat Perlu Perbaikan Tata Kelola dan Pengawasan

12 October 2026 15:29

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyebut masih terdapat siswa jenjang sekolah menengah atas (SMA) di Sekolah Rakyat yang belum bisa membaca. Hal tersebut diuangkapkan Gus Ipul usai meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 DKI Jakarta. 

Gus Ipul mengungkapkan jika proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat secara umum sudah berjalan baik, namun sekolah masih membutuhkan penguatan pengawasan, tambahan tenaga pendidik, dan pendamping siswa agar proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat lebih maksimal.

Kondisi ini menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Gus Ipul menyebut siswa di Sekolah Rakyat umumnya datang dari keluarga dalam kelompok desil satu dan dua atau kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah. Mereka berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi dan pola asuh yang berbeda. 

"Siswa Sekolah Rakyat ini memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, dan pola asuh yang berbeda-beda. Kita tahu bahwa penjangkauannya tidak dengan menggunakan tes akademik, tapi menggunakan pendekatan berbasis data desil satu dan desil dua," ujar Gus Ipul, dikutip dari tayangan Metro Siang Metro TV, Senin, 12 Oktober 2026.

Oleh karena itu, Gus Ipul menegaskan pendampingan terhadap siswa tidak cukup hanya soal pelajaran, tetapi juga mencakup dukungan psikososial bagi siswa yang membutuhkan. 

Sementara itu, Sekolah Rakyat merupakan program andalan pemerintah untuk memberikan edukasi kepada generasi muda Indonesia serta untuk memutus rantai kemiskinan. Sebelumnya, sebagai langkah mengoptimalkan potensi siswa di Sekolah Rakyat, Kementerian Sosial (Kemensos) berkolaborasi dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) memberangkatkan kadet atau calon perwira dari Universitas Pertahanan (Unhan) untuk mendampingi siswa Sekolah Rakyat. Mereka akan disebar ke 181 Sekolah Rakyat jenjang SD, SMP, SMA seluruh Indonesia. 


Rektor Unhan Letnan Jenderal TNI (Purn) Anton Nugroho menyebut secara teknis pihaknya akan membagi tim yang ada di Unhan pada 181 Sekolah Rakyat tersebut. Setiap tim terdapat tujuh kadet ditambah pengasuh.

"Mereka dari berbagai macam program studi (prodi), ada kedokteran, kedokteran gigi, teknik, teknik mesin, teknik sipil, ada juga dari farmasi. Harapan kami itu bisa bermanfaat dalam pembelajaran mereka," ujar Anton.

Namun, Anton menegaskan para kadet tidak memberikan mata pelajaran khusus seperti guru. Tetapi, menekankan pada pengembangan karakter siswa agar dapat menerima pelajaran dengan baik.

"Kita juga ajak diskusi apa hambatan dan kesulitan-kesulitan mereka. Kita berikan solusi dan jalan yang terbaik agar mereka bisa berubah. Intinya mereka itu harus ada perubahan pada diri, baik secara disiplin, karakter, pengetahuan, dan keterampilan," ungkap Anton.

(Lutfia Azzahra)

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X