Kapal Tanker Tiongkok Lolos dari Blokade Hormuz, AS Kecolongan?

16 April 2026 14:51

Di hari kedua pemberlakuan blokade maritim oleh Amerika Serikat di Selat Hormuz, sebuah kapal tanker asal Tiongkok dilaporkan berhasil lolos dari penjagaan militer AS. Sementara itu, puluhan kapal tanker lainnya dilaporkan tertahan dan terpaksa berlabuh akibat penutupan jalur vital perdagangan energi dunia tersebut.

Kapal tanker bernama Ridge Terry, yang sebelumnya telah berada di bawah daftar sanksi Amerika Serikat, tercatat sebagai kapal pertama yang berhasil melintasi Selat Hormuz dan keluar dari kawasan Teluk sejak blokade dimulai pada Selasa, 14 April 2026. Keberhasilan kapal ini menembus barikade militer menjadi sorotan tajam, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa langkah blokade ini diambil sebagai respons atas tindakan Iran yang dianggap melakukan pemerasan terhadap kapal-kapal internasional. Trump bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap kapal militer Iran yang mendekati armada AS akan segera dihancurkan.
 

Baca juga: Tulis Surat, Trump Minta Presiden Tiongkok Tidak Kirim Senjata ke Iran

Namun, langkah ini dinilai oleh sejumlah analis sebagai upaya Trump untuk menutupi kegagalan agresi militer AS terhadap Iran. Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz berada sepenuhnya di bawah yurisdiksi kedaulatan Iran dan Oman. Pasukan Garda Revolusi Iran mengklaim memiliki kendali penuh atas aktivitas di perairan tersebut.

Pemerintah Tiongkok melalui Kementerian Luar Negerinya melayangkan protes keras dan mengecam tindakan Amerika Serikat. Tiongkok menilai blokade yang dilakukan Trump adalah tindakan yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab.

Kritik juga datang dari berbagai media Barat yang menilai kebijakan ini sebagai sebuah perjudian besar yang berisiko menjadi bumerang bagi Amerika Serikat sendiri. The Independent menyebutkan bahwa meski Trump mengklaim kemenangan, faktanya AS kalah di semua lini karena posisi tawar yang lemah dalam negosiasi.

Sementara itu, NBC Network menilai blokade ini sebagai upaya nekat untuk membalikkan keadaan atas Iran, namun justru mengancam stabilitas pasar minyak global. Financial Times melaporkan adanya keyakinan kuat di pihak rakyat Iran bahwa dalam konfrontasi ini, waktu justru berpihak pada mereka.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)