Deretan Polemik Pesta Bola Dunia 2026

16 June 2026 15:24

Jakarta: Membahas Piala Dunia 2026 secara keseluruhan yang digelar di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko yang belum dimulai, ternyata berbagai kontroversi sudah banyak bermunculan. 


Tiket Iran dibatalkan


Kontroversinya apa aja? Kita mulai dari yang pertama dulu yaitu Iran. Timnas Iran dan beberapa stafnya ditolak visanya  oleh Amerika Serikat. Jatah tiket Timnas Iran dibatalkan secara sepihak kemudian ada sebanyak 13 staf tim tidak mendapatkan visa untuk masuk ke AS.

Iran akhirnya terpaksa memindahkan basis latihan mereka ke Tijuana, Meksiko. Hal ini yang kemudian menghambat proses masuknya timnas Iran. Situasi ini akhirnya membuat mereka harus pindah dari basis latihan mereka ke Tijuana, Meksiko.

Wasit Somalia ditolak masuk AS


Tapi tidak hanya itu, tidak hanya timnas Iran. Ada juga wasit Somalia yang bahkan gagal masuk AS. Omar Abdul Qadir Artan ini akhirnya batal bertugas di Piala Dunia kali ini karena ditolak saat tiba di Bandara Miami. Kenapa? Karena imbas kebijakan larangan masuk bagi warga dari sejumlah negara tertentu. 


Striker Irak ditahan 7 jam


Tidak hanya itu saja, ada lagi striker Irak yang bisa masuk, tapi diperiksa dulu selama 7 jam. Ayman Hussein diperiksa berjam-jam dan harus menjalani interogasi dan pemeriksaan keamanan di Bandara di Chicago. Tapi akhirnya tetap bisa masuk, walaupun banyak netizen yang bertanya kenapa harus selama itu pemeriksaannya. 

Timnas Senegal jalani body search ketat


Ada juga timnas Senegal, yang bahkan sampai viral. Mereka harus melakukan pemeriksaan fisik tepat setelah mendarat di Miami. Diperiksa pakai metal detektor, tasnya ditaruh di bawah. Rekamannya kemudian viral dan banyak yang mengkritik kebijakan tersebut di media sosial. Karena mengapa mereka diperlakukan seperti tahanan terorisme. 


Bus Uzbeksitan diperiksa anjing pelacak


Ada juga timnas Uzbekistan, bahkan diperiksa anjing pelacak pada saat sudah mau turnamen. Mereka disuruh turun dari bus, kemudian sama pakai metal detektor juga. Dan kemudian tas mereka ditaruh di bawah di aspal, dan kemudian ada anjing-anjing pelacak yang mengendus-endus tas mereka.

Ini kemudian juga jadi sorotan mengapa atlet internasional  yang siap untuk bertanding, tapi malah diperlakukan seperti ini. Alasannya memang karena kebijakan imigrasi yang diterapkan oleh Amerika Serikat. 

Tapi tidak hanya itu saja. Ada jutaan suporter juga yang tidak bisa masuk ke Amerika Serikat karena banyak juga permasalahannya.

Inggris kemalingan dan terancam tornado


Ada juga tim yang sampai kena pencurian, yaitu dari timnas Inggris. Tim Inggris mengalami pencurian sepatu hingga perlengkapan pelatih. Ada faktor eksternal juga, ada faktor lingkungan karena tempat latihan mereka dapat peringatan badai tornado. Mungkin ini juga mengganggu secara psikologis mereka. Hal ini juga berpengaruh ke penonton.


Harga tiket fantastis


Kemudian terkait harga akomodasi hotel yang semuanya juga mahal dan kemudian banyak sekali dikeluhkan. Tiket premium final bahkan sempat dibanderol sekitar Rp198.000.000. Juga ada sejumlah paket hospitality yang dilaporkan dijual hingga Rp12.000.000. Kemudian FIFA juga menerapkan sistem harganya dinamis.

Ini kemudian yang memicu pertanyaan, kok jadi nggak transparan terkait penjualan tiket dan akomodasi ini? Kemudian juga muncul keluhan soal minimnya transparansi penjualan. Jadi banyak sekali kontroversi-kontroversinya  yang terjadi.

Terkait banyaknya kontroversi yang terjadi kemudian menuai kritikan. Jadi dianggapnya kok semacam ada rasisme yang ditunjukkan oleh Amerika Serikat sebagai negara penyelenggara. Sementara FIFA sendiri bilang bahwa ini itu bukan tanggung jawab mereka terkait menentukan siapa yang boleh masuk atau tidak ke suatu negara.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa ajang piala dunia justru terlihat bersikap diskriminatif atau rasis terhadap beberapa individu. Bahkan terlihat dari beberapa negara tertentu saja.
Apakah kalau mereka atlet dari negara-negara white people di perlakuan seperti ini? Itu juga jadi pertanyaan.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)