Dedikasi Petugas Haji Jadi 'Mata, Telinga, dan Langkah' bagi Jemaah Lansia

18 May 2026 22:47

Mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji yang ramah lansia dan penyandang disabilitas bukanlah perkara mudah bagi pemerintah. Di balik semangat membara para tamu Allah yang memiliki keterbatasan fisik maupun sensorik, ada perjuangan panjang dan dedikasi tanpa batas dari para petugas di lapangan yang berupaya memastikan setiap hak ibadah jemaah terpenuhi dengan aman.

Melayani para jemaah dengan kebutuhan khusus di Tanah Suci telah bergeser dari sekadar tugas administratif menjadi bentuk pengabdian mendalam yang menuntut kesabaran ekstra. Di bawah terik cuaca ekstrem dan padatnya lautan manusia, para petugas dituntut untuk menjadi mata, telinga, bahkan langkah kaki bagi jemaah yang membutuhkan bantuan khusus.

Dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, kondisi riil jemaah di lapangan sangat beragam dan membutuhkan penanganan yang sangat personal. Petugas haji setiap harinya harus berhadapan dengan berbagai hambatan, mulai dari penurunan fungsi fisik, kendala komunikasi bahasa, hingga gangguan daya ingat akut yang memerlukan pendampingan melekat selama 24 jam.

Potret nyata yang sering ditemukan adalah pendampingan bagi pasangan jemaah lanjut usia yang saling memiliki keterbatasan yang berbeda. Salah satunya adalah kasus di mana sang suami mengalami gangguan pendengaran (tuli), sementara sang istri mengalami penurunan daya ingat (demensia). Dalam kondisi kompleks seperti ini, petugas harus memberikan intervensi dan pendampingan yang jauh lebih intensif agar keduanya tidak terpisah dari rombongan dan tetap dapat menjalani rangkaian ibadah secara sah.


Pemenuhan Hak Akomodasi yang Layak

Petugas Pendamping Lansia dan Disabilitas, Jaya, menegaskan bahwa pelayanan prima ini bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, melainkan amanat konstitusi yang wajib ditunaikan oleh negara. Setiap warga negara, apa pun kondisi fisiknya, memiliki hak yang setara untuk menjalankan ibadah dengan difasilitasi penunjang yang memadai.

"Undang-undang mengatur bahwa negara harus memberikan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Itu yang disebut dengan istilah akomodasi yang layak. Kalau hambatannya ada dalam hal komunikasi, maka beliau harus diberikan orang yang mampu bisa membantu komunikasi, atau alat yang bisa membuat mudah untuk bisa berkomunikasi. Karena tanpa kemudahan yang membuat beliau bisa paham atau beliau juga bisa menyampaikan apa yang diinginkannya, itulah pemenuhan hak yang sesungguhnya," tegas Jaya.

Visitasi Langsung Komisi Nasional Disabilitas

Komitmen pelayanan di sektor risti (risiko tinggi) ini juga mendapat perhatian dan pengawasan ketat dari Komisi Nasional Disabilitas (KND). Melalui perwakilannya di Tanah Suci, KND melakukan visitasi atau inspeksi langsung ke kamar-kamar hotel tempat jemaah menginap guna meninjau kelayakan fasilitas serta pelayanan harian.

Dalam kunjungan tersebut, tim KND berdialog langsung dengan para jemaah penyandang disabilitas untuk menyerap aspirasi sekaligus memastikan tidak ada satu pun hak-hak dasar mereka yang terabaikan selama berada di Madinah maupun Makkah. Bagi para petugas, memastikan seluruh jemaah dapat pulang ke tanah air dengan selamat dan meraih predikat haji mabrur adalah puncak dari tanggung jawab serta esensi tertinggi dari pengabdian mereka.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Sofia Zakiah)