26 May 2026 17:17
Menjelang Iduladha 2026, umat Muslim di berbagai belahan dunia, khususnya di Maroko dan Pakistan, menunjukkan antusiasme luar biasa dalam menyambut ibadah kurban. Meski demikian, momentum spiritual tahun ini harus berbenturan dengan realitas ekonomi pahit akibat lonjakan harga hewan ternak yang cukup signifikan.
Di Maroko, suasana di pasar hewan Ain Aouda, pinggiran kota barat, kembali menggeliat setelah tahun lalu sempat terhenti akibat bencana kemarau panjang selama tujuh musim berturut-turut. Membaiknya curah hujan telah mendorong ledakan populasi ternak nasional secara drastis, dari 23 juta ekor pada 2025 menjadi 41 juta ekor tahun ini.
Peningkatan populasi ini memberikan angin segar bagi pemerintah Maroko karena tidak perlu lagi melakukan impor hewan dari luar negeri. Kini kaum ibupun sudah mulai ramai memadati pasar tradisional untuk berburu rempah-rempah.
Namun, melimpahnya stok tidak serta-merta membuat harga terjangkau. Masyarakat tetap harus merogoh kocek dalam-dalam domba ras Sardi yang paling diminati, dibanderol antara 400 hingga 750 Euro. Sementara domba ras Birki berkisar antara 350 hingga 600 Euro.
Ekonom setempat menengarai bahwa tingginya harga ini tidak hanya dipicu oleh biaya pakan, tetapi juga adanya distorsi harga akibat ulah para spekulan lokal.
| Baca juga: Limbah Hewan Kurban Bisa Jadi Masalah, Kenali Cara Pengelolaannya |