Negara-Negara yang Pernah Mengalami Krisis Moneter Besar dalam Sejarah

Wijokongko • 19 June 2026 11:11

Jakarta: Krisis moneter merupakan salah satu peristiwa ekonomi yang dapat mengguncang stabilitas sebuah negara. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor keuangan, tetapi juga mempengaruhi kehidupan masyarakat melalui lonjakan harga, meningkatnya pengangguran, hingga menurunnya daya beli.

Sejarah mencatat sejumlah negara pernah mengalami krisis moneter yang sangat parah, bahkan beberapa di antaranya berujung pada kebangkrutan negara, hiperinflasi, dan krisis kemanusiaan. 


Krisis minyak OPEC 1973


Melansir dari Britannica, salah satu krisis ekonomi global terbesar terjadi pada tahun 1973 ketika negara-negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memberlakukan embargo minyak terhadap Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya sebagai respons atas dukungan mereka kepada Israel dalam Perang Arab-Israel.

Embargo tersebut menyebabkan pasokan minyak dunia terganggu dan harga energi melonjak tajam. Akibatnya, banyak negara maju mengalami perlambatan ekonomi yang disertai inflasi tinggi. Kondisi ini kemudian dikenal sebagai stagflasi, yaitu kombinasi antara stagnasi ekonomi dan inflasi yang tinggi. Pemulihan ekonomi global saat itu membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Berikut beberapa negara yang pernah menghadapi krismon besar:


1. Vietnam


Vietnam pernah mengalami keterpurukan ekonomi yang serius setelah perang berkepanjangan dan penerapan sistem ekonomi terpusat pada dekade 1980-an. Infrastruktur rusak, produktivitas pertanian menurun, dan inflasi mencapai tiga digit.

Kondisi tersebut memicu krisis pangan, gelombang pengungsian, serta masalah kemanusiaan yang mendapat perhatian internasional. Situasi mulai berubah setelah pemerintah menerapkan reformasi ekonomi ??i M?i pada akhir 1980-an. Reformasi ini membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang pesat pada dekade berikutnya.


2. Rusia


Pada tahun 1998, Rusia mengalami krisis keuangan yang menyebabkan negara tersebut gagal membayar utang domestik senilai sekitar 40 miliar dolar AS. Krisis tersebut memicu jatuhnya nilai rubel, inflasi hingga sekitar 84 persen, serta kelangkaan berbagai kebutuhan pokok. Krisis Rusia menjadi salah satu peristiwa ekonomi paling berpengaruh pada akhir abad ke-20 karena dampaknya juga dirasakan oleh pasar keuangan global.


3. Brasil


Brasil turut terdampak gejolak ekonomi global pada akhir 1990-an, terutama setelah krisis keuangan Asia dan krisis Rusia. Investor asing menarik modal dalam jumlah besar sehingga nilai mata uang Brasil melemah tajam.

Untuk menstabilkan kondisi ekonomi, Brasil memperoleh bantuan internasional dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia senilai sekitar 41,5 miliar dolar AS. Berkat reformasi ekonomi dan kebijakan fiskal yang lebih fleksibel, Brasil secara bertahap berhasil memulihkan kepercayaan investor.

4. Thailand


Thailand dikenal sebagai titik awal terjadinya Krisis Keuangan Asia 1997. Krisis bermula ketika pemerintah melepas sistem nilai tukar tetap baht Thailand yang kemudian mengalami depresiasi besar-besaran hingga sekitar 40–60 persen.

Kondisi tersebut memicu kepanikan pasar, kebangkrutan perusahaan, dan meluas ke berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Pemerintah Thailand saat itu bahkan mendorong masyarakat untuk menjual emas guna memperkuat cadangan devisa negara.


5. Indonesia


Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh Krisis Asia 1997–1998. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.000 per dolar AS sempat merosot hingga sekitar Rp16.650 per dolar AS. Krisis tersebut menyebabkan lonjakan harga kebutuhan pokok, meningkatnya angka kemiskinan, serta ketidakstabilan sosial dan politik. Dampaknya juga berkontribusi terhadap berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto setelah lebih dari tiga dekade berkuasa.


6. India


Pada tahun 1991, India menghadapi krisis neraca pembayaran yang sangat serius. Cadangan devisa negara menyusut hingga hanya cukup untuk membiayai impor selama kurang dari tiga minggu. Untuk memperoleh pinjaman dari IMF, pemerintah India bahkan harus menjaminkan sebagian cadangan emas nasionalnya. Saat itu inflasi mencapai sekitar 12,1 persen.

Setelah menerima bantuan IMF sebesar sekitar 2,5 miliar dolar AS, India melakukan reformasi ekonomi besar-besaran yang membuka sektor perdagangan dan investasi. Kebijakan tersebut menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi India di masa berikutnya.


7. Argentina


Melansir dari laman Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Argentina mengalami hiperinflasi yang sangat parah pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Kombinasi antara kebijakan moneter yang tidak efektif, krisis ekonomi, dan ketidakstabilan politik menyebabkan harga-harga melonjak tidak terkendali.

Pada tahun 1990, inflasi bulanan Argentina mencapai sekitar 197 persen. Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah menerapkan berbagai reformasi ekonomi, termasuk kebijakan yang mengaitkan nilai peso dengan dolar AS.


8. Yunani


Masih dilansir dari laman yang sama, salah satu kasus hiperinflasi paling ekstrem dalam sejarah terjadi di Yunani selama pendudukan Jerman pada Perang Dunia II antara tahun 1941 hingga 1944. Kekurangan pasokan barang dan pencetakan uang secara berlebihan menyebabkan harga-harga melonjak luar biasa. Pada puncaknya pada tahun 1944, tingkat inflasi tahunan Yunani diperkirakan mencapai sekitar 8,5 triliun persen, menjadikannya salah satu hiperinflasi terburuk yang pernah tercatat.


9. Zimbabwe


Zimbabwe mengalami salah satu episode hiperinflasi paling terkenal dalam sejarah modern pada periode 2007–2008. Pemerintah terus mencetak uang dalam jumlah besar untuk menutupi berbagai masalah ekonomi yang terjadi.

Akibatnya, nilai mata uang Zimbabwe merosot drastis hingga pemerintah menerbitkan uang kertas bernilai 100 triliun dolar Zimbabwe. Pada puncak krisis, inflasi harian diperkirakan mencapai sekitar 98 persen, yang membuat aktivitas ekonomi hampir lumpuh total.

IMF menyatakan bahwa pandemi COVID-19 telah menghancurkan ekonomi global dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya. Dalam laporan terbaru yang dirilis pada 24 Juni, dunia diperkirakan akan kehilangan nilai output ekonomi sebesar 12 triliun dolar AS dalam waktu dua tahun. Beberapa negara di Eropa Barat, seperti Inggris dan Prancis, diproyeksikan akan mengalami penurunan lebih dari 10 persen. Satu-satunya negara yang diprediksi akan tetap mencatat pertumbuhan PDB, meskipun hanya sebesar 1 persen, adalah Tiongkok. (Jessica Nur Faddilah)

(Wijokongko)