Begini Sejarah Diturunkannya Perintah Puasa dalam Islam-Lensa Ramadan

5 March 2026 07:51

Jakarta: Ibadah puasa merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki sejarah panjang, bahkan sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad SAW. Tradisi menahan hawa nafsu ini telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu dengan tata cara dan tujuan yang terus disempurnakan hingga turunnya syariat puasa Ramadhan.

Sejarah Diturunkannya Perintah Puasa

Berikut adalah tahapan sejarah diturunkannya perintah puasa dalam Islam:

1. Puasa Nabi Nuh AS: Awal Tradisi Berpuasa

Menurut pandangan ulama ahli tafsir, Imam Al-Qurthubi, Nabi Nuh AS diyakini sebagai nabi pertama yang melaksanakan ibadah puasa. Tradisi ini bermula setelah beliau dan para pengikutnya yang beriman berhasil diselamatkan dari bencana badai besar yang menghancurkan kaumnya.
 

Puasa tersebut dilakukan semata-mata sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT. Meski demikian, tata cara dan aturan puasa yang dilakukan pada masa Nabi Nuh AS belum memiliki pedoman yang spesifik seperti puasa Ramadhan yang umat Islam kenal saat ini.

2. Puasa di Masa Nabi Muhammad SAW

Jauh sebelum kewajiban puasa Ramadan resmi diturunkan, Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat sejatinya sudah terbiasa melaksanakan ibadah puasa pada hari-hari tertentu. Beberapa di antaranya adalah puasa tiga hari setiap pertengahan bulan qamariyah pada tanggal 13, 14, dan 15 yang dikenal sebagai puasa Ayyamul Bidh, serta puasa Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.

Perintah wajib untuk melaksanakan puasa Ramadan baru diturunkan pada tahun kedua Hijriah, atau sekitar 18 bulan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Perintah mutlak ini disampaikan oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).

Turunnya ayat ini menjadi tonggak sejarah yang menegaskan bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana utama untuk meningkatkan ketakwaan (muttaqin). Puasa wajib ini kemudian ditetapkan berlangsung selama sebulan penuh, sekaligus menggantikan tradisi puasa wajib sebelumnya.

3. Rasulullah SAW dan Puasa Ramadhan

Setelah perintah tersebut turun, Rasulullah SAW menjadikan puasa Ramadan sebagai salah satu ibadah yang paling diutamakan. Sepanjang sisa hidupnya di Madinah, tercatat beliau melaksanakan ibadah puasa Ramadan sebanyak sembilan kali.
Rasulullah SAW juga senantiasa memotivasi umatnya untuk menjalankan ibadah ini dengan sungguh-sungguh melalui sabdanya yang masyhur:

"Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai ibadah yang telah diwariskan sejak umat-umat terdahulu hingga mencapai kesempurnaannya pada masa Rasulullah SAW, puasa Ramadhan menjadi bukti bahwa ajaran Islam hadir sebagai penyempurna syariat sebelumnya.
 

Dengan memahami sejarah diturunkannya perintah puasa, umat Islam diharapkan tidak hanya menjalankan kewajiban ini secara ritual, tetapi juga mampu menangkap esensi ketakwaan yang menjadi tujuan utama disyariatkannya ibadah puasa.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

(Daffa Yazid Fadhlan)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)