Di tengah pergerakan bursa saham regional yang rata-rata mengalami pelemahan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru berhasil mencatatkan kinerja positif pada awal perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026.
Jurnalis Metro TV, Insan Suardi melaporkan, IHSG terpantau menguat 0,31 persen dan kokoh bertahan di zona hijau pada level 6.254 per pukul 10.00 WIB. Penguatan ini tercatat sekitar 19 hingga 20 basis poin dengan nilai transaksi mencapai Rp3,803 triliun.
Pengamat
pasar modal, Wahyu Laksono, menilai bahwa anomali penguatan IHSG ini didorong oleh sejumlah sentimen positif dari dalam negeri. Solidnya indikator makroekonomi domestik mampu menjadi penopang utama yang menahan IHSG dari tekanan regional.
Katalis positif tersebut datang dari rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai tingkat inflasi bulan Juli yang dinilai tetap terkendali pada level 2,88 persen secara tahunan
(year on year).
Selain itu, sentimen positif juga datang dari data Purchasing Managers' Index (
PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali merangkak naik ke zona ekspansif di level 50,2, setelah sebelumnya sempat tertahan di zona kontraksi.
Saat ini, para pelaku pasar juga tengah
wait and see rilis data terkait Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua untuk melihat lebih jauh performa pertumbuhan ekonomi nasional.
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Selain data makro, pergerakan
nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu fokus utama para pelaku pasar modal. Sebelumnya, rupiah pada akhir Juli hingga awal Agustus mencatatkan tren positif dengan penguatan sekitar 0,37 persen, bergerak dari level Rp18.058 menjadi Rp17.991 per dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, pada perdagangan hari ini nilai tukar rupiah terpantau sedikit mengalami pelemahan sebesar 0,46 persen, berada pada level Rp18.035 per dolar AS.