Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
PMI Manufaktur Kembali Ekspansi, Rupiah Berbalik Menguat
Ade Hapsari Lestarini • 3 August 2026 17:19
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Senin, didorong membaiknya aktivitas manufaktur Indonesia dan meredanya kekhawatiran pasar terhadap tensi geopolitik global.
Rupiah menguat 25 poin atau 0,14 persen menjadi Rp17.997 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp18.022 per USD. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat menjadi Rp17.991 per USD dari sebelumnya Rp18.058 per USD.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah didukung oleh meningkatnya Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia menjadi 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni, berdasarkan laporan S&P Global.
"Angka di atas level 50 menunjukkan kondisi operasional manufaktur kembali membaik pada awal kuartal III 2026," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, dilansir Antara, Senin, 3 Agustus 2026.
Menurut dia, perbaikan tersebut ditopang oleh kembali tumbuhnya volume produksi setelah empat bulan mengalami kontraksi.

Aktivitas manufaktur Indonesia membaik topang gerak rupiah. Foto: dok MI/Susanto.
Baca Juga :
Rupiah Hari Ini Dibuka ke Rp18.031/USD
Membaiknya permintaaan di Indonesia
S&P Global juga mencatat peningkatan produksi didorong membaiknya permintaan dan meningkatnya kepercayaan pelanggan. Meski demikian, kenaikan harga bahan baku masih menjadi faktor yang menahan laju ekspansi sektor manufaktur.
Sentimen domestik lainnya berasal dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2026. Sebelumnya, Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,44 persen pada Juni 2026.
Dari eksternal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah sejumlah negara di Timur Tengah meminta waktu untuk melanjutkan proses negosiasi.
"Pernyataan tersebut memicu penurunan tajam harga minyak lebih dari USD5 per barel pada awal perdagangan Asia. Kondisi ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan berkepanjangan akan mempertahankan inflasi pada level tinggi dan memperkuat alasan bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Ibrahim.