Jakarta: Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025 tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga memutus akses kehidupan.
Puluhan jalan nasional lumpuh, jembatan ambruk, dan wilayah terisolasi. Dalam kondisi darurat seperti ini, kecepatan memulihkan akses menjadi kunci.
Pemerintah pun mengambil langkah cepat, salah satunya dengan membangun jembatan Bailey sebagai jembatan darurat untuk menyambung kembali wilayah yang terputus.
Jembatan Bailey adalah jembatan rangka baja pra-fabrikasi yang bersifat portabel, dan dikembangkan oleh militer Inggris selama Perang Dunia II.
Jembatan ini terbuat dari panel atau modul yang dapat dengan cepat dirakit untuk membentuk jembatan sementara atau permanen. Jembatan Bailey masih digunakan hingga kini, terutama dalam situasi darurat dan pemulihan pasca-bencana.
10 jembatan Bailey di lokasi terdampak bencana
Untuk mempercepat pemulihan akses warga, pemerintah hingga kini telah merampungkan 10 jembatan Bailey wi wilayah terdampak bencana alam di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Selain Bailey, pemerintah juga akan menggunakan jembatan Armco. Jembatan Armco adalah jembatan darurat atau sementara yang terbuat dari pelat baja bergelombang modular, dirancang untuk pemasangan cepat guna memulihkan konektivitas masyarakat pascabencana.
Siapa yang membangun jembatan Bailey dan Armco?
Untuk pembangunan jembatan Bailey dan Armco di lokasi terdampak bencana, dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan TNI, BNPB, Polri, Pemda, PU/PR, masyarakat lokal, dan relawan.
Sementara asal dana untuk pembangunan adalah BNPB dan APBN, anggaran tak terduka, dan dukungan dari Kementerian Pertahanan dan TNI.
Sementara pembangunan jembatan Bailey dan Arcmo memakan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu tergantung logistik dan lokasi.
"Dan juga dari Presiden langsung melalui Kemenhan akan dicari 100 (jembatan) bailey dari luar untuk mendukung di bencana ini," kata KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak.
Sumber: Redaksi Metro TV