Laut Gaza Tak Lagi Menjanjikan Harapan, 232 Nelayan Kehilangan Nyawa Akibat Perang

8 July 2026 21:18

Laut yang dahulu menjadi lumbung harapan, kini berubah menjadi hamparan kecemasan bagi warga Gaza. Di tengah deru perang yang belum juga reda, jaring-jaring nelayan tidak lagi sekadar menangkap ikan, namun juga menggantungkan secercah asa untuk bertahan hidup.

Lebih dari dua tahun perang telah mengubah wajah pesisir Gaza. Pelabuhan yang dulu berdenyut oleh aktivitas nelayan, kini menjelma menjadi lautan tenda bagi para pengungsi. Perahu-perahu yang dahulu menari di atas ombak, kini banyak yang tinggal kerangka bisu akibat konflik. Sektor perikanan yang menjadi urat nadi ribuan keluarga, perlahan kehilangan denyutnya. Bersamaan dengan itu, salah satu sumber pangan penting di Gaza ikut melemah.

Di tengah keterbatasan, para nelayan tetap menantang ombak dengan perahu kayu kecil dan jaring yang dijahit kembali menggunakan tangan. Mereka kini hanya berani melaut sekitar 500 meter dari bibir pantai. Laut yang semestinya menjadi sahabat, kini berubah menjadi ruang penuh ancaman karena bayang-bayang kapal perang Zionis Israel terus mengintai. Hasil tangkapan yang didapat pun tak lagi mampu mengisi kebutuhan keluarga seperti sebelumnya. Setiap perjalanan melaut menjadi pertaruhan antara kehidupan dan keselamatan.

Seorang nelayan Palestina, Jaber Baker mengatakan mereka berangkat ke laut tanpa mengetahui apakah akan kembali. Sebelum perang, mereka dapat berlayar lebih jauh dan membawa pulang hasil yang cukup. Kini, laut yang luas terasa begitu sempit oleh berbagai pembatasan. Larangan masuknya fiberglass dan suku cadang membuat kapal-kapal besar sulit diperbaiki. Para nelayan akhirnya bertahan dengan peralatan seadanya, seolah menambal harapan yang ikut terkoyak.

"Sekarang kami hampir tidak diizinkan melakukan apa pun. Kami hanya berlayar sekitar 500 meter ke laut. Sebelum perang, kami bisa pergi jauh lebih jauh dan mencari nafkah. Hari ini kami pergi tanpa tahu apakah kami akan kembali, tetapi kami tidak punya pilihan. Kami harus bertahan hidup, meskipun hasil tangkapannya sangat sedikit." kata Nelayan, Jaber Baker, dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Rabu, 8 Juli 2026.
 



Menurut Serikat Nelayan Palestina, Zakaria Baker, sebanyak 232 nelayan telah kehilangan nyawa sejak perang dimulai. Sebanyak 28 nelayan lainnya dilaporkan ditahan sejak gencatan senjata diberlakukan. Zakaria juga menyebut para nelayan yang memungut kembali jaring dari gudang yang hancur akibat bom, lalu menjahitnya agar bisa kembali digunakan. Mereka tetap melaut meski setiap ayunan dayung dibayangi risiko maut. Bagi mereka, laut bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah, melainkan garis tipis yang memisahkan hidup dan mati.

"Para nelayan mengambil jaring mereka dari gudang yang dibom dan memperbaikinya dengan tangan agar sesuai dengan area kecil yang masih dapat mereka akses. Mereka mempertaruhkan nyawa setiap kali pergi ke laut, menangkap ikan dalam jarak kurang dari satu kilometer sambil tetap dikejar." ucap Kepala Serikat Nelayan Palestina, Zakaria Baker.

Di daratan, penderitaan juga terus berlabuh. Pelabuhan yang dahulu menjadi pintu rezeki, kini berubah menjadi rumah darurat bagi ratusan keluarga pengungsi. Data PBB menunjukkan sekitar 1,7 juta warga Palestina hidup di kamp-kamp yang padat, sementara sekitar 60 persen wilayah Gaza masih berada di bawah kendali Israel. Krisis air bersih, pangan, dan tempat tinggal membuat kehidupan warga semakin terjepit. Di antara laut yang tidak lagi ramah dan daratan yang penuh luka, rakyat Gaza terus berusaha menjaga nyala harapan agar tidak padam.

"Kami menderita dalam segala hal. Air langka, makanan langka, dan kami hidup dalam kemiskinan yang nyata. Bahkan mendapatkan air pun sulit. Suami saya yang sudah lanjut usia membawa wadah berat setiap hari dan pulang dengan sakit punggung yang parah." ucap Warga, Fathiya Ghattas.

Di Gaza, laut tak lagi sekadar hamparan biru yang menjanjikan rezeki, melainkan ruang yang dipenuhi risiko dan ketidakpastian. Ketika pelabuhan berubah menjadi tempat pengungsian, dan jaring-jaring menjadi simbol perjuangan bertahan hidup, nasib ribuan nelayan pun terus terombang-ambing di tengah gelombang konflik yang belum menemukan tepi.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X