8 July 2026 21:18
Laut yang dahulu menjadi lumbung harapan, kini berubah menjadi hamparan kecemasan bagi warga Gaza. Di tengah deru perang yang belum juga reda, jaring-jaring nelayan tidak lagi sekadar menangkap ikan, namun juga menggantungkan secercah asa untuk bertahan hidup.
Lebih dari dua tahun perang telah mengubah wajah pesisir Gaza. Pelabuhan yang dulu berdenyut oleh aktivitas nelayan, kini menjelma menjadi lautan tenda bagi para pengungsi. Perahu-perahu yang dahulu menari di atas ombak, kini banyak yang tinggal kerangka bisu akibat konflik. Sektor perikanan yang menjadi urat nadi ribuan keluarga, perlahan kehilangan denyutnya. Bersamaan dengan itu, salah satu sumber pangan penting di Gaza ikut melemah.
Di tengah keterbatasan, para nelayan tetap menantang ombak dengan perahu kayu kecil dan jaring yang dijahit kembali menggunakan tangan. Mereka kini hanya berani melaut sekitar 500 meter dari bibir pantai. Laut yang semestinya menjadi sahabat, kini berubah menjadi ruang penuh ancaman karena bayang-bayang kapal perang Zionis Israel terus mengintai. Hasil tangkapan yang didapat pun tak lagi mampu mengisi kebutuhan keluarga seperti sebelumnya. Setiap perjalanan melaut menjadi pertaruhan antara kehidupan dan keselamatan.
Seorang nelayan Palestina, Jaber Baker mengatakan mereka berangkat ke laut tanpa mengetahui apakah akan kembali. Sebelum perang, mereka dapat berlayar lebih jauh dan membawa pulang hasil yang cukup. Kini, laut yang luas terasa begitu sempit oleh berbagai pembatasan. Larangan masuknya fiberglass dan suku cadang membuat kapal-kapal besar sulit diperbaiki. Para nelayan akhirnya bertahan dengan peralatan seadanya, seolah menambal harapan yang ikut terkoyak.
"Sekarang kami hampir tidak diizinkan melakukan apa pun. Kami hanya berlayar sekitar 500 meter ke laut. Sebelum perang, kami bisa pergi jauh lebih jauh dan mencari nafkah. Hari ini kami pergi tanpa tahu apakah kami akan kembali, tetapi kami tidak punya pilihan. Kami harus bertahan hidup, meskipun hasil tangkapannya sangat sedikit." kata Nelayan, Jaber Baker, dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Rabu, 8 Juli 2026.