Langkah Donald Trump di Selat Hormuz Picu Ketegangan Baru

14 April 2026 15:47

Teheran: Amerika Serikat (AS) resmi memulai blokade di jalur perdagangan vital global, Selat Hormuz, setelah negosiasi dengan Iran berakhir buntu. Langkah yang diambil Presiden Donald Trump ini dinilai menjadi beban politik baru yang berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.

Meski blokade dilakukan di tengah konflik yang memanas, situasi di dalam negeri Iran terpantau masih stabil. Aktivitas masyarakat, mulai dari perkantoran hingga kegiatan jual beli, dilaporkan berjalan normal.

Guna menjaga stabilitas nasional, Pemerintah Iran mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem daring. Selain itu, pemerintah setempat juga mengambil langkah insentif dengan menggratiskan transportasi publik bagi seluruh warga.

Untuk mencegah kepanikan massa, otoritas Iran mengimbau masyarakat untuk tetap memberikan kepercayaan penuh kepada angkatan bersenjata mereka. Militer Iran dinilai mampu menghadapi segala bentuk provokasi dan strategi militer yang dilancarkan pihak Amerika Serikat.

71 Persen Warga AS Menentang Trump

Kebijakan Trump mendapatkan perlawanan keras dari dalam negerinya sendiri. Berdasarkan survei terbaru, mayoritas penduduk AS atau sekitar 71 persen menentang strategi blokade tersebut. Masyarakat menilai eskalasi militer hanya akan membengkakkan pengeluaran negara di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Meski Pentagon berencana memangkas separuh dana perang Iran, publik AS khawatir penutupan Selat Hormuz akan memicu pembengkakan pengeluaran akibat lonjakan harga minyak hingga harga kebutuhan bahan pokok yang kian tinggi. Mereka bahkan menyebut Trump tidak memiliki keputusan yang jelas dalam mengakhiri perang. 
 

Baca Juga: Dunia Desak AS dan Iran Segera Pulihkan Jalur Pelayaran Selat Hormuz

Pengamat: Trump Tidak Konsisten

Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, memberikan kritik pedas terhadap kepemimpinan Trump. Menurutnya, Trump adalah pemimpin yang kerap memberikan pernyataan bohong dan tidak konsisten.

"Presiden AS Donald Trump kembali berbohong. Buktinya, ketika dia bilang berhasil menghancurkan angkatan laut Iran, tapi ternyata untuk membuka Selat Hormuz saja AS tidak berani menurunkan kapal perangnya," tutur Faisal dalam program Selamat Pagi Indonesia Metro TV.

Faisal juga menyoroti keegoisan Trump yang dinilai mengabaikan kepentingan global demi ambisi pribadi. Ia bahkan menyinggung spekulasi mengenai kondisi kesehatan mental sang Presiden.

"Trump ini adalah presiden yang tidak bisa lagi dipercaya pernyataannya. Mungkin benar pendapat senator Demokrat bahwa Trump mengalami demensia atau kepikunan," tambah Faisal.

Di sisi lain, Faisal memuji sikap tenang Teheran dalam menghadapi provokasi. Iran dinilai tidak bersikap gegabah dan tetap menghormati kedaulatan negara lain selama tidak ada serangan langsung ke wilayah mereka.

"Iran sejauh ini selalu bersikap menunggu. Jika tidak ada serangan dari AS maupun Israel, mereka tidak akan menyerang balik. Ini menunjukkan bahwa Iran menghargai hukum internasional," pungkasnya.

(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Sofia Zakiah)