Husen Miftahudin • 12 February 2026 13:10
Jakarta: PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI sukses menggaet lebih dari dua juta nasabah baru pada kurun waktu sepanjang 2025. Jumlah ini merupakan rekor tertinggi yang dicetak BSI sejak berdiri pada 1 Februari 2021.
Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan, rekor ini tercipta berkat upaya perseroan dalam menambah jumlah anjungan tunai mandiri (ATM) yang ada di area-area publik. Pada 2023, BSI menambah 5.000 ATM yang ditempatkan di area publik seperti MRT dan lain sebagainya.
"(Penambahan) 5.000 ATM ini meningkatkan jumlah nasabah. Pada 2025, BSI mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah kita berdiri, yakni jumlah costumer baru. Jadi kita tahun lalu nambah costumer baru itu lebih dari dua juta nasabah dalam satu tahun," ucap Cahyo dalam acara 'Metro TV Sharia Economic Forum: Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact' di The Tribatra Hotel, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.
Meski langkah itu memerlukan anggaran yang cukup besar, namun penambahan 5.000 ATM mampu mendongkrak jumlah nasabah baru bagi emiten berkode saham BRIS itu. Sekaligus, mendorong masyarakat 'melek' dan beralih ke perbankan syariah.
"Jadi (dengan penambahan 5.000 ATM) apakah transaksinya meningkat di ATM? Enggak. Tapi berdasarkan costumer survey, kita tanya, apa yang sudah lumayan bagus di BSI? Jawabannya, 'ATM-nya sudah kelihatan di mana-mana. Tapi tentu (anggaran pengadaaan 5.000 ATM) itu enggak murah, tentu angka yang besar," tutur Cahyo.
Diakui Cahyo, penambahan ribuan ATM merupakan upaya perseroan dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan syariah di Indonesia, Karena diketahui, tingkat inklusi perbankan syariah cuma berada di angka 13 persen.
Cahyo mengungkapkan, peningkatan indeks inklusi dan literasi keuangan syariah, khususnya pada perbankan syariah, ditopang oleh adanya faktor physical presence atau kehadiran fisik. Physical presence menjadi gap terbesar yang menghalangi keinginan orang Indonesia beralih dari bank konvensional ke bank syariah.
"Makanya yang paling basic yang kita lakukan, setelah merger dan punya 1.000 cabang lebih yang mulai setara dengan BCA, kita melakukan branding secara masif," tutur Cahyo.
"Jadi melalui physical presence, yang pertama cabang dulu dan pada 2022-2023 kita secara masif nambah jumlah ATM. Jadi sebelumnya ATM bank syariah itu sangat jarang, bahkan ATM BSI sendiri sebelumnya hanya ada di kantor cabang, bukan di public space. Makanya 2023 kita beli 5.000 ATM baru, dan kita taruh di public space, termasuk di MRT dan segala macam," lanjut Cahyo.
Ia percaya betul permintaan (demand) masyarakat terhadap perbankan syariah di Indonesia itu tidak mengalami permasalahan mendasar. Tetapi, yang menjadi persoalan utama rendahnya tingkat inklusi dan literasi pebankan syariah adalah kehadiran fisik bank itu sendiri.
"Nah unfortunately, saat ini yang mampu melakukan dalam skala masif cuma BSI. Tapi saya yakin nanti dengan kehadiran bank syariah lain, dengan mindset yang sama, bahwa demand-nya ada, mudah-mudahan inklusi bisa meningkat juga. Jadi, physical presence yang paling fundamental yang kita lakukan," tegas Cahyo.