Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Di tengah kepungan asap pekat dan beratnya medan, petugas gabungan terus berjibaku siang dan malam untuk memadamkan api, khususnya di wilayah lahan gambut yang memiliki karakteristik sulit dipadamkan dan rawan menyala kembali.
Jurnalis Metro TV, Yohana Margaretha, melaporkan perjuangan para petugas yang harus berkejaran dengan waktu guna mencegah kobaran api meluas serta mengancam kawasan pemukiman warga di Sampit.
Proses pemadaman di lahan gambut membutuhkan penanganan ekstra. Meskipun api di permukaan tampak sudah padam, panas dan
bara api sering kali masih tertimbun di bawah permukaan tanah. Oleh karena itu, tim pemadam wajib melakukan proses pendinginan dan pemantauan secara berulang.
Dalam laporan langsung dari lapangan, Pratu Muhtar, seorang anggota TNI yang bertugas sebagai petugas pemadam, menjelaskan kendala teknis yang dihadapi di lapangan. Karakteristik tanah gambut yang kering dan menyimpan bara membuat kebutuhan air sangat tinggi.
"Soalnya tanah di sini kan gambut, susah. Airnya minimal satu tangki itu 4.000 liter itu sekitar 5 meter, 6 meter baru bisa dipadamkan," ungkap Pratu Muhtar dikutip dari
Metro Siang, Metro TV, Selasa 8 September 2026.
Pratu Muhtar bersama rekan-rekan satuan tugas bahkan telah dikerahkan bergiliran di Sampit sejak awal Juni demi mengendalikan si jago merah.
Dampak Kabut Asap bagi Kesehatan Warga
Selain menyulitkan petugas di garis depan, pekatnya
kabut asap karhutla turut memberikan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat sekitar. Salah seorang warga setempat, Jumratul Aini, mengaku keluarganya ikut merasakan dampak langsung dari paparan asap kebakaran tersebut.
"Terdampaknya ini untuk kesehatan ya, untuk asapnya. Oh sakit, untuk anak sakit, istri juga ada juga sakit kemarin berobat ke Puskesmas," ujar Jumratul.
Para petugas di lapangan pun kerap mengalami pusing akibat terlalu lama terpapar asap pekat saat memadamkan api.
Perjuangan berat yang dilakoni oleh aparat gabungan dan relawan bukan sekadar memadamkan api di atas sebidang tanah, melainkan menahan bencana agar tidak merusak kehidupan warga secara lebih luas. Upaya mitigasi dan kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian alam mutlak diperlukan agar ancaman karhutla tidak terus berulang demi melindungi generasi masa kini dan masa depan.