Satuan tugas gabungan yang terdiri dari Kodim 1201/Mempawah, Polres Mempawah, BPBD Kabupaten Mempawah, serta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) terus berjibaku melakukan proses pendinginan di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi pemadaman lanjutan ini dipusatkan di Desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Jurnalis Metro TV, Heinrich Terra, melaporkan langsung dari lokasi bahwa area lahan gambut yang hangus terbakar membentang sangat luas hingga berhektare-hektare. Guna memaksimalkan penanganan, tim gabungan membagi proses pendinginan ke dalam beberapa klaster wilayah.
Kepala BPBD Kabupaten Mempawah, Aswin AS, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerapkan strategi pemetaan secara terarah untuk melokalisasi sebaran api agar tidak semakin meluas ke wilayah lain.
"Strategi pemetaan juga sudah kita lakukan. Rata-rata yang kena di sini adalah yang di sebelah kiri kalau ke arah dari Mempawah ke Kecamatan Sadaniang. Strategi kita jangan sampai dia menyebar, nyebrang ke sebelah kanan," ungkap Aswin dikutip dari Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Selasa 9 September 2026.
Sementara itu, Dandim 1201/Mempawah, Letkol Corps Zeni Ali Isnaini, memaparkan bahwa metode pendinginan dilakukan secara agresif dan menyeluruh langsung ke titik-titik sisa kebakaran hingga struktur tanah gambut berubah menjadi lumpur padat. Untuk mengatasi kendala ketersediaan air di beberapa titik, jajaran Kodim bersama instansi terkait telah membangun belasan sumur bor di berbagai lokasi strategis.
"Pendinginan yang kita lakukan ini terus kita lakukan sampai benar-benar tanah ini sudah terlihat seperti bubur. Di beberapa lokasi untuk pendinginan dan penyiraman ini kita lakukan dengan membuat sumur bor, Kodim sendiri sudah membuat hampir 15 sumur di berbagai titik," ujar Letkol Ali Isnaini.
Di sisi penegakan hukum, Wakapolres Mempawah, Kompol Reynaldi Guzel, menyatakan bahwa pihaknya saat ini masih mendalami insiden kebakaran tersebut. Penyelidikan intensif terus dilakukan oleh Satreskrim untuk memastikan apakah karhutla disebabkan oleh unsur kesengajaan manusia atau murni dipicu oleh faktor cuaca ekstrem.
Kendati proses pendinginan digencarkan, petugas di lapangan masih menghadapi tantangan berat berupa luasnya hamparan lahan gambut serta keterbatasan jangkauan selang air ke bagian dalam titik api. Kepulan asap tebal yang membumbung tinggi juga sempat mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga sekitar.