Ratusan jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, terpaksa melangsungkan ibadah Minggu pagi di area terbuka. Keputusan ini diambil menyusul kerusakan struktural pada bangunan gereja akibat guncangan gempa bumi yang melanda wilayah tersebut pada pertengahan Agustus lalu.
Jurnalis Metro TV, Qonita Rakhman melaporkan dari area Watukasu, Kelurahan Danga, seluruh peralatan peribadatan seperti kursi jemaat tampak dipindahkan ke area samping gedung gereja. Bangunan utama gereja saat ini tidak memungkinkan untuk digunakan lantaran mengalami tembok retak, atap runtuh, hingga kaca jendela yang pecah.
Selain karena kondisi fisik bangunan yang tidak aman, rasa trauma yang mendalam di kalangan warga juga menjadi alasan utama pemindahan lokasi ibadah. Ancaman gempa susulan yang masih terus membayangi wilayah Kabupaten Nagekeo membuat warga merasa lebih aman beribadah di luar ruangan.
Durasi Khotbah Dipersingkat
Meski berlangsung di ruang terbuka dengan fasilitas seadanya, antusiasme jemaat tidak surut. Warga terpantau sudah berdatangan ke lokasi sejak pukul 07.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA).
Secara keseluruhan, rangkaian ibadah yang dipimpin oleh pendeta tetap berjalan normal sesuai jadwal, yakni dimulai pada pukul 08.00 hingga 10.00 WITA. Namun, terdapat penyesuaian khusus pada durasi penyampaian khotbah.
Berdasarkan penuturan salah seorang jemaat, sejak terjadinya gempa, sesi khotbah sengaja dipersingkat. Langkah ini diambil oleh pihak gereja untuk meminimalisasi risiko bahaya serta mengurangi rasa cemas jemaat yang masih dihantui ancaman gempa bumi susulan.