Ancaman Karhutla saat El Nino, Pemprov Kalteng Siapkan Langkah Mitigasi

19 June 2026 11:03

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang diprediksi meningkat seiring ancaman fenomena El Nino pada periode 2026 hingga 2027. Strategi utama yang diusung meliputi penguatan infrastruktur sumber air di wilayah pelosok dan optimalisasi teknologi modifikasi cuaca.

Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla 2026 bertajuk 'Bersinergi untuk Negeri Menghadapi El Nino 2026 dan 2027' di Kementerian Kehutanan, Jakarta Pusat. Rapat koordinasi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ini dihadiri para kepala daerah, unsur TNI, Polri, BNPB serta instansi terkait.

Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo, menekankan pentingnya kesiapsiagaan dini. Berdasarkan pengalaman El Niño ekstrem 2015 dan 2019, tantangan terbesar di lapangan adalah sulitnya mengakses sumber air saat api membakar kawasan hutan dan lahan gambut yang jauh dari sungai maupun pemukiman. 

"Yang harus kita antisipasi itu adalah ketersediaan sumber air, karena kebakaran ini bisa terjadi di tengah kawasan hutan yang sumber airnya tidak ada karena kering," ujar Edy yang dikutip Metro Pagi Primetime pada Jumat, 19 Juni 2026.

Untuk mengatasi kendala jarak, Pemprov Kalteng berencana membangun infrastruktur air darurat seperti embung, kolam penampungan, hingga penggunaan water tank portabel berbahan plastik atau terpal di wilayah rawan. Infrastruktur ini dianggap krusial untuk mendukung operasi pemadaman darat, terutama jika lokasi api berjarak lebih dari 3 kilometer dari sungai besar.
 

Baca juga: Papua Selatan Masuk Kemarau Panjang, BMKG Waspadai Karhutla

Selain fokus pada infrastruktur fisik, pemerintah juga akan mengoptimalkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menciptakan hujan buatan. Langkah ini harus dilakukan segera saat awan hujan masih tersedia, diperkirakan pada periode Juni hingga Juli, sebelum memasuki puncak kemarau pada Agustus hingga Oktober.

Selain itu Pemprov Kalteng juga menyoroti pentingnya strategi pemadaman di lahan gambut. Karakteristik lahan gambut di Kalimantan Tengah yang bisa terbakar hingga ke lapisan bawah tanah menuntut penanganan khusus dan pasokan air yang melimpah agar pemadaman bisa dilakukan secara efektif hingga tuntas.

Saat ini, Kalimantan Tengah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, mulai dari penetapan status siaga, kesiapan personel, hingga pengecekan peralatan pemadaman. Koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, BNPB, serta TNI dan Polri terus diperkuat guna memastikan respons cepat dan efektif saat muncul titik api (hotspot).

Pemerintah berharap melalui persiapan yang lebih matang dan pemanfaatan teknologi, dampak El Niño tahun ini tidak akan se-ekstrem periode-periode sebelumnya, meskipun kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat kemarau berpotensi berlangsung selama 5 hingga 6 bulan.

(Anggie Meidyana)