18 June 2026 17:53
Kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai belum cukup untuk menciptakan perdamaian menyeluruh di kawasan Timur Tengah. Konflik yang masih berlangsung di Gaza dan Lebanon disebut tetap berpotensi memicu eskalasi baru, meski hubungan Washington dan Teheran menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dosen dan pemerhati geopolitik Timur Tengah, Aji Cahyono, menilai kesepakatan yang tengah dijajaki kedua negara lebih berorientasi pada stabilitas geopolitik dan kepentingan ekonomi masing-masing pihak, dibanding penyelesaian konflik kawasan secara komprehensif.
"Perdamaian yang digagas oleh AS dan juga Iran itu juga menjadi syarat penting bagi stabilitas kawasan namun juga masih belum cukup untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah secara menyeluruh," ujarnya dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Kamis 18 Juni 2026.
Menurut Aji, baik AS maupun Iran sama-sama memiliki kepentingan strategis yang membuat keduanya diuntungkan dari upaya meredakan ketegangan.
Bagi AS, kesepakatan dapat mengurangi risiko konflik berkepanjangan yang membebani ekonomi, menekan gejolak harga minyak, menjaga jalur energi global, serta membatasi pengembangan program nuklir Iran.
Sementara bagi Iran, salah satu kepentingan utama adalah membuka peluang pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini membatasi aktivitas perekonomian negara tersebut.
"Saya rasa keduanya mungkin bisa jadi sangat diuntungkan. Yang mana kalau kita melihat apa terkait dengan beberapa kepentingan ya. Kita bicara persoalan keuntungan atau kepentingan daripada kedua belah pihak baik itu kepentingan dari Amerika Serikat maupun daripada kepentingan Iran tersendiri," katanya.
Meski demikian, Aji menegaskan tantangan terbesar justru datang dari konflik-konflik lain yang berlangsung di kawasan. Terutama yang melibatkan Israel, Gaza, dan Lebanon.
Ia menjelaskan konflik antara AS dan Iran memiliki dimensi berbeda dengan konflik yang melibatkan Israel dan kelompok-kelompok yang dianggap berafiliasi dengan Iran, seperti Hizbullah dan Houthi.
Menurutnya, dari sudut pandang Israel, operasi militer yang dilakukan bertujuan menjaga keamanan nasional dari ancaman kelompok bersenjata. Namun di sisi lain, Iran dan sejumlah negara di kawasan memandang tindakan tersebut sebagai faktor yang memperpanjang ketidakstabilan regional.