10 September 2026 19:21
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membenarkan adanya sesar aktif yang melintasi wilayah Surabaya hingga Madura dan Sidoarjo. Namun menegaskan bahwa itu bukanlah temuan baru. Informasi yang beredar di media sosial mengenai potensi gempa hingga magnitudo 6,7 merupakan hasil kalkulasi kapasitas energi maksimum, bukan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
Sesar aktif sepanjang sekitar 90 kilometer tersebut dikenal sebagai Java Back Arc Thrust Surabaya yang membentang dari Bangkalan (Madura), Surabaya bagian barat, hingga Kabupaten Sidoarjo. Jalur patahan ini sebenarnya telah tercantum dalam peta kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) sejak 2017 dan diperbarui pada 2024.
Penanggung Jawab Informasi Gempa dan Tsunami BMKG, Bayu Pranata menjelaskan bahwa potensi magnitudo maksimum dihitung berdasarkan dimensi panjang dan lebar sesar. Bukan ramalan waktu terjadinya gempa.
Baca Juga :
"Wilayah Surabaya memang ada sesar yang kita sebut bagian dari Back Thrust Java, atau Java Back Arc Thrust. Dan ini melintasi di wilayah Surabaya bagian barat hingga ke Sidoarjo. Jadi ini merupakan kapasitas energi yang rilis maksimum ya, ini bukan suatu prediksi memang akan terjadi seperti itu, jadi masyarakat tidak perlu panik,” ujar Bayu dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis, 10 September 2026.
Senada dengan BMKG, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono, mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh oleh isu bahwa gempa besar akan segera melanda. Menurutnya, informasi keberadaan sesar aktif seharusnya menjadi sarana memperkuat mitigasi bencana, seperti memastikan ketahanan bangunan, memahami jalur evakuasi, dan menentukan titik kumpul.
"Sebentar lagi akan terjadi, itu yang misleading. Memang potensi itu bukan prediksi, karena potensi itu menunjukkan besaran kekuatan, kemudian tempatnya ada tapi tidak ada waktunya,” ungkap Daryono.
Masyarakat diminta untuk tidak panik, bijak memilah informasi dari sumber terpercaya, serta menyiapkan langkah-langkah mitigasi sejak dini.