101 Tahun Perjalanan Pendidikan Papua Angkat Tema ‘Membangun Peradaban dari Rumah’

26 October 2026 13:25

Peringatan 101 tahun perjalanan peradaban pendidikan di tanah Papua diserukan dari Situs Bersejarah Aitumiere, Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, Minggu, 25 Oktober 2026. Memasuki abad kedua peradaban pendidikan modern, momentum bersejarah ini menegaskan kembali peran keluarga sebagai fondasi utama pendidikan generasi emas Papua.

Aitumiere bukan sekadar titik di peta Kabupaten Teluk Wondama, melainkan ruang memori kolektif lahirnya pendidikan modern Papua. Tepat pada 25 Oktober 1925 silam, misionaris Belanda Pendeta Izaak Samuel Kijne (I.S. Kijne) meletakkan batu peradaban yang memuat nubuat legendaris: "Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri."

Peringatan 101 tahun kali ini mengusung tema "Membangun Peradaban dari Rumah" dengan subtema "Setiap Rumah adalah Sekolah, dan Setiap Orang adalah Guru".

Gagasan ini berakar dari tradisi luhur keluarga Papua, di mana relasi orang tua dan anak serta pewarisan nilai adat dan budi pekerti bermula dari bilik rumah.

"Setiap rumah adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Filosofi ini menekankan bahwa pembentukan karakter anak Papua harus diawali dari ketahanan dan teladan dalam keluarga sebelum melangkah ke bangku sekolah formal," kata Bupati Teluk Wondama Elysa Auri, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin, 26 Oktober 2026.
 

Deklarasi Abad Kedua dan Kampus Baru


Puncak peringatan ditandai dengan pembacaan Deklarasi Pembangunan Wondama untuk Tanah Papua Menuju Abad Kedua Peradaban Pendidikan oleh Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Daerah Teluk Wondama Adrian Worengga. Usai pembacaan deklarasi, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan memimpin langsung penandatanganan dokumen deklarasi bersama para tokoh adat dan agama, sekaligus menandatangani prasasti abad kedua peradaban pendidikan.

Implementasi nyata dari komitmen tersebut diwujudkan melalui rencana pendirian kampus Politeknik I.S. Kijne Wondama di atas lahan seluas 10 hektare di Warayaru, Kampung Sobey, Distrik Teluk Duairi.

Dukungan akademis juga mengalir dari berbagai perguruan tinggi di Papua Barat. Rektor Universitas Ottow Geissler Papua (UOGP) Dr. Philipus Ramandei menegaskan komitmen lembaganya dalam mendukung transformasi sumber daya manusia bersama pemerintah daerah.

Hal senada diungkapkan Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Papua (Unipa) Prof. Jonni Marwa. Unipa siap menerjunkan mahasiswanya melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik dan praktik kerja lapangan untuk memperkuat literasi di tingkat kampung dan rumah tangga.

Peran Krusial Keluarga dan Tantangan Pelosok
Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) di Tanah Papua Pendeta Abraham Ungirwalu mengingatkan bahwa gereja, sekolah, dan keluarga harus terus berjalan beriringan dalam mendidik anak-anak.

Sementara itu, perwakilan para guru se-Kabupaten Teluk Wondama, Frengki Semboari, menyambut baik sinergi antara rumah dan sekolah.

"Anak datang ke sekolah dari rumah, dan setelah sekolah mereka kembali ke rumah. Karena itu, orang tua memegang kontribusi yang sangat besar untuk mendidik anak-anak kita sejak dini di dalam rumah," ungkap Frengki.

Kendati optimisme merebak dari Aitumiere, tantangan riil dunia pendidikan Papua pada abad kedua ini masih membentang. Mulai dari pemerataan tenaga pengajar, peningkatan mutu numerasi dan literasi, hingga keterbatasan akses fasilitas belajar di kampung-kampung pelosok pesisir dan pedalaman Papua Barat tetap menjadi pekerjaan rumah bersama yang menanti dituntaskan.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X