Hadapi Tekanan Dolar AS, Bank Indonesia Komitmen Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

27 October 2026 14:37

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat berbagai instrumen guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ketidakpastian pasar keuangan global.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah saat ini menghadapi tantangan berat akibat fenomena suku bunga tinggi global yang bertahan lebih lama (higher for longer). Kondisi ini dipicu oleh tingginya inflasi di Amerika Serikat, imbal hasil obligasi AS (US Treasury yield) tenor 10 tahun yang menembus rekor di atas 5 persen, serta tren penguatan dolar AS (strong dollar).

"Kondisi global seperti inflasi tinggi, bond yield yang tinggi, perlambatan ekonomi, hingga naiknya harga minyak membuat suku bunga bertahan tinggi. Situasi ini berdampak pada negara berkembang, termasuk Indonesia, karena aliran modal masuk (inflow) dari negara maju menjadi sangat terbatas," ujar Destry dalam wawancara eksklusif di program Zona Bisnis Metro TV, Selasa, 27 Oktober 2026.

Destry menjelaskan, terbatasnya aliran modal asing secara otomatis menekan pasokan (supply) dolar AS di dalam negeri. Pada saat yang sama, permintaan (demand) terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut tetap tinggi, terutama untuk membiayai kebutuhan impor energi seiring kenaikan harga minyak mentah dunia.

Menghadapi ketimpangan pasokan dan permintaan valuta asing (valas), BI berupaya menjaga pergerakan rupiah agar tetap selaras (align) dengan rata-rata mata uang di negara berkembang (emerging markets).
 


Destry menekankan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar tidak berarti memaksakan rupiah harus selalu menguat, melainkan menjaganya tetap berada dalam rentang pergerakan yang wajar sesuai fundamental ekonomi.

"Stabilitas itu bukan berarti kita paksakan rupiah harus menguat. Semua ada rentang dan kondisinya. Jika tekanan global sedang sangat buruk dan di pasar domestik muncul sentimen atau goncangan, peran BI adalah memitigasi agar volatilitasnya tetap terkendali," jelasnya.

Untuk memperkuat pasokan valas dari sisi fundamental, Destry menilai Indonesia harus terus mendorong kinerja ekspor. Ia juga mendukung penuh langkah tegas pemerintah dalam menertibkan praktik manipulasi faktur ekspor (under-invoicing) dan pengalihan harga (transfer pricing).

Menurutnya, penertiban tersebut krusial agar seluruh devisa hasil ekspor yang menjadi hak negara benar-benar tercatat optimal dan masuk ke sistem keuangan nasional untuk menopang ketahanan rupiah.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X