26 October 2026 07:54
Menjejakkan kaki di kawasan Kota Lama Semarang seolah membawa kita menembus mesin waktu. Kawasan cagar budaya seluas 40 hektare yang dijuluki Little Netherland (Oudstad) ini kini tampil memikat, memadukan keaslian arsitektur kolonial dengan kenyamanan ruang publik modern.
Deretan gedung megah peninggalan abad ke-18 dan ke-19 masih berdiri kokoh. Salah satunya Monod Huis, gedung bersejarah milik Raja Gula Asia Oei Tiong Ham yang direvitalisasi menjadi ruang komunal seni dan budaya. Tak jauh dari sana, tembok tua yang terlilit akar pohon beringin raksasa—dikenal sebagai Rumah Akar—tetap menjadi primadona swafoto para pelancong.
Eksplorasi di kawasan ini kian menyenangkan berkat hadirnya fasilitas transportasi ramah lingkungan. Wisatawan dapat menyusuri lorong-lorong berubin menggunakan skuter listrik sewaan maupun mobil golf (golf cart).
Di sudut lainnya, pengunjung diajak menyelami nostalgia tempo dulu di Pasar Klitikan. Berlokasi di gedung tua milik PPI, pasar ini menyajikan ribuan artefak antik, mulai dari mesin tik tua, mata uang era VOC, hingga barang elektronik era 1980-an. Tak hanya berbelanja barang kuno, wisatawan juga dapat menjajal lokakarya kreatif pembuatan Wayang Suket—kerajinan wayang tradisional berbahan jalinan rumput liar yang diampu oleh komunitas pegiat lokal.