Konflik Saudi–Houthi Memanas, Serangan Asimetris Sasar Fasilitas Strategis dan Bandara

14 October 2026 14:57

Eskalasi konflik antara militer Arab Saudi dan kelompok Houthi (Ansar Allah) di Yaman kembali memanas. Selain pertempuran sengit di garis depan utara Provinsi Marib, serangan Houthi kini meluas menyasar fasilitas ekonomi dan infrastruktur strategis di wilayah Arab Saudi, termasuk sedikitnya lima bandara.

Menanggapi eskalasi ini, Direktur Kerja Sama Luar Negeri Indopacific Strategic Intelligence (ISI), Aisha Kusumasomantri, menilai bahwa Houthi sengaja menerapkan strategi perang asimetris dan protracted war (perang berkepanjangan). Menurutnya, target utama Houthi bukan sekadar kekuatan militer, melainkan gangguan terhadap kapasitas ekonomi dan objek vital Arab Saudi, seperti bandara, fasilitas pengolahan minyak, kilang petrokimia, hingga instalasi desalinasi air.

"Houthi melihat adanya peluang ketika membuat perang ini menjadi bentuknya asimetris. Yang diincar bukan hanya kekuatan militer Arab Saudi, tetapi mereka berusaha mengganggu kapasitas ekonomi dengan mengincar fasilitas strategis seperti bandara, pengolahan minyak, hingga fasilitas desalinasi air." kata Aisha, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Rabu, 14 Oktober 2026.

Pertempuran di darat meningkat tajam seiring diluncurkannya operasi "Fajar Yaman" oleh pasukan pemerintah Yaman untuk mengembalikan lembaga negara dan membebaskan ibu kota Sana'a. Di saat bersamaan, kelompok Houthi mengklaim telah menembak jatuh drone pengintai Winglong 2 milik Arab Saudi di atas Saada, serta merilis rekaman serangan drone terhadap armada bantuan militer Saudi.
 



Meski Arab Saudi memiliki kapasitas militer terkuat di kawasan, serangan Houthi yang diluncurkan dari jarak 500 mil terbukti sulit diintersepsi secara penuh oleh sistem pertahanan udara Saudi. Secara politik, Houthi memanfaatkan eskalasi ini untuk menekan Arab Saudi agar memberikan ganti rugi atas operasi militer sejak 2015, sekaligus mengejar pengakuan internasional secara de jure sebagai penguasa resmi Yaman.

"Ada hal yang diinginkan Houthi secara spesifik dari Arab Saudi: pertama, ganti rugi atas operasi militer sejak 2015, dan kedua adalah pengakuan internasional secara de jure. Ketika berhasil mendapat pengakuan dari Arab Saudi sebagai 'great power' di kawasan, hal itu akan membuka pintu pengakuan internasional." ucap Aisha.

Sementara itu, posisi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dinilai tidak akan terlibat secara penuh dalam bentuk operasi militer langsung. Selain fokus pada urusan domestik jelang pemilu sela dan keterbatasan pasokan amunisi, Houthi dilaporkan sempat menemui delegasi AS di Qatar untuk menawarkan kesepakatan agar tidak menyerang aset AS selama Washington tidak membantu Arab Saudi secara langsung.

"Saya rasa tidak memungkinkan bagi Amerika Serikat untuk turun 100 persen membantu Arab Saudi. Kalaupun ada bantuan, sifatnya akan terbatas seperti asistensi intelijen, logistik, dukungan informasi, dan dukungan politik di forum internasional." ungkapnya.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X