13 October 2026 17:15
Penghentian eskalasi konflik bersenjata antara pemerintahan de facto Yaman (Ansarullah/Houthi) dan Arab Saudi dinilai sepenuhnya bergantung pada keputusan Pemerintah Arab Saudi untuk mencabut embargo serta blokade wilayah yang telah berlangsung sejak 2015.
Pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman menjelaskan bahwa serangan balasan yang diluncurkan oleh kelompok Ansarullah ke wilayah Arab Saudi bertujuan untuk memaksa Riyadh menghentikan pengeboman dan blokade di jalur darat, laut, maupun udara.
Akibat pembatasan ketat tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat Yaman mengalami krisis ketidakamanan pangan (food insecurity) yang parah serta penderitaan kelaparan dan malnutrisi pada anak-anak. Selain itu, lebih dari 200 kali pengeboman telah menyasar bandara-bandara di Yaman, termasuk Bandara Sana'a.
"Tujuannya adalah supaya Saudi sudah jangan memerangi lagi, jangan mengembargo lagi, jangan memblokade lagi. Sehingga kalau Arab Saudi memutuskan untuk tidak lagi menyerang, tidak lagi mengembargo, tidak lagi memblokade, tentu perang akan berhenti. Jadi jawabannya ada di tangan Saudi saat ini," tegas Dina Sulaeman dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.
Dinamika Geopolitik dan Keterlibatan Amerika Serikat
Dina memaparkan bahwa eskalasi ini berkaitan erat dengan peta geopolitik kawasan Timur Tengah, khususnya dukungan Ansarullah terhadap perjuangan Palestina di Gaza sejak Oktober 2023 melalui aksi pemblokadean di Laut Merah. Aksi tersebut dinilai mengganggu kepentingan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Mengenai wacana keterlibatan militer AS secara langsung, Dina menilai Presiden AS akan mempertimbangkan ulang langkah tersebut. Pengalaman militer AS pada tahun 2015 selama 52 hari di Laut Merah terbukti gagal menundukkan Yaman setelah kapal perang AS turut dibombardir oleh pasukan Ansarullah.
Di samping itu, kalkulasi ekonomi menunjukkan biaya produksi rudal AS jauh lebih mahal dibandingkan biaya operasional rudal maupun drone milik Ansarullah dan Iran.
"Hitung-hitungan ekonomi ini saya pikir yang berat buat Trump kalau memang betul-betul mau ikut terjun langsung dalam perang ini," ujar Dina.
Baca Juga :
Dampak Bagi Indonesia dan Imbauan Diplomasi
Konflik yang kian memanas ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, termasuk memicu kenaikan harga minyak dunia dan produk petrokimia yang dibutuhkan Indonesia. Selain sektor ekonomi, keselamatan penerbangan haji dan umrah turut membayangi warga Indonesia. Meski Ansarullah menjamin keselamatan Makkah dan Madinah, penetapan bandara-bandara lain di Arab Saudi sebagai target militer tetap menimbulkan risiko tinggi bagi penerbangan.
Dina mendorong Pemerintah Indonesia untuk menggunakan pengaruh diplomasi (leverage) dengan pihak Arab Saudi. Menurutnya, mendesak satu pihak untuk menghentikan serangan tidak akan menyelesaikan akar masalah selama blokade terhadap Yaman tidak dihentikan.
Kebuntuan Mediasi dan Peran PBB
Di sisi lain, upaya mediasi yang sempat ditawarkan oleh Iran belum membuah hasil. Pihak Ansarullah menolak poin-poin kesepakatan yang diajukan Arab Saudi karena dinilai tidak memuaskan dan belum mengakomodasi tuntutan utama, yaitu penghentian total embargo agar pasokan logistik, makanan, dan obat-obatan dapat masuk.
Oleh karena itu, PBB didesak untuk memberikan tekanan yang lebih kuat kepada semua pihak guna menghentikan agresi dan memulihkan kondisi kemanusiaan di Yaman.